Pupuk Subsidi Tembus Pelosok Desa, Pacu Petani Milenial di Batas Negeri

nando1
Nando Nahak membersihkan gulma pengganggu tanaman padi di lahan sawahnya, Sabtu (22/2/2025). (foto : yos seran)

Puluhan hektar sawah milik petani, termasuk lahan miliknya, tersebar di tiga desa: Desa Kleseleon, Desa Motaulun, dan Desa Naas di Kecamatan Malaka Barat. Total keseluruhan lahan irigasi dan non-irigasi di Kabupaten Malaka seluas 11.053 hektar.

“Saya bikin sembilan petak. Luasan seluruhnya 90 are. Di wilayah tiga desa ini lahannya subur, sehingga sekali panen dengan luasan lahan 1 hektar bisa mencapai 10 ton hingga 12 ton gabah. Saya punya luas 90 are saja. Saya target hasil panen mencapai 9 ton gabah. Kalau menurun pun minimal 7 ton gabah,” ujar Nando di atas pematang sawah.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Nando menyadari, pasokan beras di Kabupaten Malaka masih kurang untuk menjamin keberlangsungan hidup masyarakat di wilayah perbatasan RI-RDTL. Kurangnya produksi beras di Malaka karena minimnya intervensi atau masih luput dari perhatian pemerintah daerah. Itu salah satu faktor.

Para petani masih mengalami beberapa kendala, seperti kurangnya air pada musim tanam kedua (MT2), pengadaan benih belum sesuai kebutuhan lahan, kurangnya pestisida, ketersediaan pupuk, dan alsintan (alat mesin pertanian).

Petani milenial ini pun menjelaskan, ketersediaan pangan di daerah perbatasan seperti Kabupaten Malaka harus cukup. Bila perlu lebih.  Apalagi Kabupaten Malaka adalah salah satu kabupaten tersubur di Pulau Timor dan memiliki potensi sawah yang sangat luas tersebar di 5-6 kecamatan dari 12 kecamatan yang ada di  Malaka.

“Ada dua musim tanam. Musim tanam pertama dan musim tanam kedua. Untuk tiga desa (Desa Naas, Kleseleon dan Motaulun) airnya lancar, sehingga tidak ada kendala pada musim tanam kedua. Musim tanam pertama selalu aman karena air berkelimpahan,”  jelas Nando.

Pos terkait