Pupuk Subsidi Tembus Pelosok Desa, Pacu Petani Milenial di Batas Negeri

nando1
Nando Nahak membersihkan gulma pengganggu tanaman padi di lahan sawahnya, Sabtu (22/2/2025). (foto : yos seran)

Di sela-sela bertani, pria berkumis tipis ini menjalani tugasnya sebagai konsultan di toko atau tempat Usaha Dagang (UD) yang menyediakan bahan dan obat-obatan pertanian di Kabupaten Malaka.

Hal itu ia lakukan agar masyarakat atau petani yang hendak membeli produk untuk tanaman pertanian mendapatkan penjelasan terkait manfaat dan penggunaannya dari bahan tersebut. “Masyarakat kita sebagian besar belum terlalu paham, sehingga harus bantu jelaskan,” ungkap Nando.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Nando yakin  pupuk subsidi mampu meningkatkan produktivitas pertanian sehingga masyarakat Malaka tidak lagi beli beras dari luar, tetapi justru distribusi ke luar daerah, bahkan bisa ekspor ke negara tetangga Timor Leste.

“Saya yakin, demplot di tiga desa saja, swasembada pangan di Malaka sudah terpenuhi. Karena luas lahannya mencapai puluhan hektar. Apalagi semua desa yang ada lahan sawah diperhatikan secara baik. Pasti di Malaka berkelimpahan pangan. Masyarakat tidak lagi beli beras dari luar Malaka,” kata Nando.

Hal serupa dilakukan Dami Klau (36), warga Desa Kleseleon, Kecamatan Weliman. Untuk meningkatkan kesuburan padi, Dami  selalu memakai pupuk urea dan NPK.

“Petani di sini selalu pakai dua pupuk ini. Saya juga biasanya pakai pupuk urea dan NPK saja. Hasilnya bagus. Memuaskan,” ungkap Dami sambil mengeluarkan isi pupuk dari karung.

Ayah satu anak itu memiliki empat petak sawah. Setiap petak berukuran 10×10 meter. Sekali musim panen mencapai puluhan karung beras. Hasil dari empat petak tersebut mampu memenuhi konsumsi selama setahun, dan bahkan sebagian dijual.

Pos terkait