Oleh Pater Kons Beo, SVD
Kawan ku…
Kuulangi lagi tentang apa yang kualami. Kenapa kah terhadap sesama selalu saja ada rasa dan aura hati suram? Untuk cenderung memandang dan menilai mereka serba pekat?
Kawan ku…
Aku punya tangan dengan jariku yang suka menuduh dan menghakimi.
Aku punya ‘kaki yang cenderung menekan dan menghempas keluar sesama dari lingkaran Kasih dan Harapan.’
Dan lagi, aku punya mata yang cenderung tajam melihat semuanya hanya dalam teropong kabur, suram, kelam serta negatif.
Kawan ku …..
Tetap teringat dan terenung kata-kata yang sungguh menghantam nalar dan batinku:
‘Kenapa kah sebintik noda kecil di baju pada jemuran tetanggamu, dari kejauhan jelas dan tajam kau lihat, sementara sobek baju yang tengah kau kenakan sedikitpun tak kau sadari?’
Kawan ku…
Kata-kata Yesus untuk semuanya adalah penggallah dan cungkillah. Tuhan tegaskan, sesungguhnya, dijalaninya proses pedagogi tangan, kaki dan mata. Agar dapat menggapai sesama dalam Kasih, pengampunan, rasa penuh keakraban serta persaudaraan.
Kawan ku…
Tampaknya aku mesti mengusahakan hadirnya garam dalam diriku dari Samudra Kasih Yesus, Tuhan. Semuanya agar aku dapat hidup berdamai dengan sesama. “Dalam kata-kata dan melalui sikap-sikapku.”
Kawan ku…
Kuingin kembali melukiskan Sabda Kehidupan Yesus, Tuhan:
“Hendaklah kalian selalu mempunyai garam dalam dirimu dan selalu hidup berdamai seorang dengan yang lain” (Markus 9:50).
Verbo Dei Amorem Spiranti
Tuhan memberkati
Amin






