Kita semua tentu mengharapkan agar TKA menjadi alat dan sarana, bukan tujuan. TKA pada dasarnya adalah alat yang netral. Baik atau buruknya tergantung pada bagaimana kita menggunakannya.
Agar TKA tidak menjadi masalah baru, ada tiga kunci yang harus dipegang. Pertama, bagi pemerintah, gunakan hasil TKA murni untuk pemetaan dan perbaikan sistem, bukan untuk menghukum sekolah dengan nilai rendah. Berikan afirmasi dan intervensi bagi sekolah-sekolah yang hasilnya masih tertinggal. Transparansi kisi-kisi dan contoh soal juga harus diberikan jauh-jauh hari agar tidak ada spekulasi yang memicu industri bimbel yang tidak sehat.
Kedua, bagi sekolah dan guru, jangan mengubah TKA menjadi tujuan akhir pembelajaran. Tetaplah fokus pada proses membangun kemampuan literasi, numerasi, dan berpikir kritis. Jika kemampuan dasar ini kuat, TKA akan terlewati dengan sendirinya tanpa perlu drilling berlebihan. Jadikan TKA sebagai alat diagnosis, untuk mengetahui di mana letak kelemahan siswa kita, bukan sebagai ajang gengsi sekolah.
Ketiga, bagi orang tua dan siswa, lihatlah TKA sebagai potret diri, bukan sebagai vonis masa depan. Skor TKA yang baik tentu membanggakan, tetapi skor yang kurang baik bukanlah akhir dari segalanya. Pendidikan yang sejati dewasa ini bukan hanya tentang kemampuan akademik, tetapi juga tentang ketangguhan, empati, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi.
Pada akhirnya, tantangan pendidikan di sekolah dewasa ini jauh melampaui sekadar soal ujian. TKA bisa menjadi bagian dari solusi jika ia ditempatkan pada posisi yang tepat: sebagai cermin yang jujur, bukan sebagai palu yang menghakimi. Jika kita berhasil menjaga keseimbangan itu, maka TKA akan benar-benar membantu kita mewujudkan pendidikan Indonesia yang lebih bermutu, adil, dan memanusiakan.






