Joel sudah empat kali menjajali Bumi Flores dengan motor tunggangannya. Di mata dia, Flores memiliki kearifan lokal yang luar biasa beragam dan unik. Ini perlu terus dipromosikan dan dikembangkan agar bisa membawa dampak bagi perekonomian masyarakat lokal.
“Kami bersama para Legend Riders ingin mendukung pariwisata NTT, khususnya Flores, dengan menjelajahi pulau ini dari Larantuka di ujung timur hingga Golo Mori, Labuan Bajo, di ujung barat. Kami benar-benar ingin mengekplorasi kearifan lokal Pulau Flores,” tutur Joel.
Turing yang Menyatukan
Turing para mantan pereli ke Pulau Flores memang tidak sekadar mengukur waktu dan jarak tempuh atau pun daya jelajah tunggangan mereka. Ini diakui oleh Alex Dungkal, Ketua Tour de Flores Heritage yang mengemas rangkaian kegiatan para eks pembalap selama enam hari di Flores. Ada kegiatan sosial, sumbangan buku, dan penanaman mangrove di kawasan Sikka.
Tentu saja, para legenda juga diajak untuk berhenti sejenak di pusat-pusat peradaban tua di Flores, seperti situs Homo Floresiensis di Liang Bua (Manggarai), Warloka/Golo Mori (Manggarai Barat), kampung megalitik Bena (Ngada), kampung-kampung adat (Nagekeo), hingga Kota Renya Larantuka, sebagai peninggalan satu-satunya kerajaan Katolik di Indonesia.
“Mereka adalah nama besar di dunianya, dan melalui merekalah kita ingin mempromosikan pariwisata Flores dalam satu tarikan nafas, satu kesatuan, mulai dari Larantuka hingga Labuan Bajo,” kata wartawan senior dan penulis ini.
Menurut Alex, kegiatan seperti turing “Jelajah Flores” atau lomba balap sepeda Tour de Flores yang sempat merajut sukses selama dua tahun penyelenggaraannya (2016-2017), mestinya semakin kerap dilakukan dan didesain dengan baik agar Flores dilihat sebagai kawasan wisata yang satu dan utuh, dan bisa dinikmati oleh para pelancong sekaligus dalam sekali jalan.







