Untuk penggunaan pelayanan M-Banking, kata Vincent, hampir 95 persen koperasi kredit sudah siap untuk menyelenggarakan pelayanan berbasis digital tersebut.
“Bagi sebagian kecil yang belum, kita tetap berupaya mendorong agar mereka juga masuk dalam pelayanan digitalisasi,” katanya.
Sesuai dengan filosofi berkoperasi, kata Vincent, koperasi itu adalah orang, koperasi itu berbasis anggota. Karena itu pusat koperasi kredit juga berupaya terus menerus untuk meningkatkan jumlah anggota, kapasitas pelayanan kepada masyarakat juga terus ditingkatkan. Yang dilakukan Puskopdit adalah pendampingan, monitoring, pendidikan, audit yang dilakukan secara terencana, terjadwal setiap tahun.
“Kita kunjungi seluruh kopdit di Sabu, Rote, Alor, Timor untuk meningkatkan kapasitas mereka dalam melayani anggotanya,” imbuhnya.
Di NTT, kata Vincent, seluruh koperasi kredit tergabung dalam Induk Koperasi Kredit Indonesia. Dan di NTT ada lima Inkopdit yakni Puskopdit Timor, Puskopdit Manggarai, Puskopdit Flores Mandiri, Puskopdit Swadaya Utama dan Puskopdit Sumba.
“Lima Puskopdit tersebut menyerap enam ribu orang NTT sebagai karyawan di kopdit-kopdit primer dan sekunder. Enam ribu orang adalah 6 persen dari tingkat pengangguran NTT berarti koperasi kredit di NTT telah berkontribusi menurunkan tingkat pengangguran di NTT sebesar 6 persen,” terang Vincent. (np)







