“Beginilah kondisi kami sekarang, sudah jauh berubah dibanding sebelumnya. Dulu Napan hanyalah sebuah desa kecil, namun sekarang kami sudah menjadi sebuah desa yang putaran roda ekonominya baik,” tegas Siki.
Sementara Antonius Anton punya kisah sendiri. Dia memulai usahanya pada awal tahun 2010. Saat itu dia merintis usahanya dengam meracik aneka minuman herbal dan anggur fermentasi jahe serta pisang.
“Saat itu saya racik hanya untuk konsumsi gratis warga. Setiap tamu yang mampir, saya suguhi. Lama-lama mereka katakan suka, dan saya mulai produksi skala besar. Itu di tahun 2013. Dan atas dukungan Bank NTT usaha saya kini sangat maju,” tutur Antonius sembari menunjuk puluhan jenis produk yang dihasilkan.
Ada anggur fermentasi jahe dan pisang yang kadar alkoholnya 11 %, ada juga madu batu dalam kemasan kecil, aneka makanan ringan dengan bahan baku yang dihasilkan warga setempat seperti keripik singkong, keripik talas, jagung bunga, kue rambut, ramuan herbal rematik dan berbagai penyakit kulit, minyak urut untuk penyakit kulit, serta banyak jenis produk khas Napan.
Pemerintah Desa Napan pun membentuk sejumlah kelompok tenun, beranggotakan ibu-ibu rumah tangga di desa setempat. Setiap hasil produksinya dijual di pusat penjualan yang terletak di halaman rumah Antonius Anton.
“Kami punya tenunan yang coraknya beraneka ragam. Semuanyaa hasil karya ibu-ibu di Napan. Kami bersyukur karena usaha kami kian maju, keuntungannya jutaan rupiah dan dari usaha ini banyak menghidupi rumah-rumah tangga di sini. Anak-anak kami pun bisa kuliah,” tegas Anton yang usai menerima tim juri di rumahnya harus segera ke Kupang meenghadiri wisuda anaknya pada Jumat (18/11) pagi. “Anak saya bisa menamatkan kuliahnya dari usaha ini,” tegasnya dengan wajah gembira.







