KUPANG kabarntt.id—Fraksi Golkar DPRD NTT mengingatkan tahun 2022 nanti tekanan terhadap fiskal daerah mulai memberat. Kondisi ini terjadi akibat penurunan dividen dari Bank NTT yang selama ini menjadi andalan pemasukan Pemda NTT.
Peringatan Fraksi Golkar DPRD NTT ini diuraikan Juru bicara Fraksi Golkar, Drs. Gabriel Manek, ketika membacakan pendapat akhir fraksi pada sidang paripurna DPRD NTT, Senin (29/11/2021).
Rapat paripurna ke-11 DPRD NTT dengan agenda mendengarkan pendapat akhir fraksi-fraksi itu dipimpin Ketua DPRD NTT, Emelia Nomleni, didampingi Wakil Ketua, Inche Sayuna, dan Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat.
Dalam pendapat akhir yang dibacakan Gabriel Manek, Fraksi Golkar mengingatkan tahun anggaran 2022 mendatang tekanan terhadap fiskal daerah mulai terasa berat.
Tekanan itu terutama akibat penurunan dividen Bank NTT yang menjadi andalan PAD. “Dividen ini secara signifikan menurun dengan penerimaan dividen hanya 50 persen karena harus menjaga stabilitas modal inti minimum (MIM) Bank NTT sebesar Rp 3 triliun di tahun 2024,” urai Gabriel Manek.
Gabriel Manek menguraikan pencapaian laba bersih Bank NTT masih sangat jauh dari yang ditargetkan RUPS melalui Pemegang Saham Pengendali (PSP) yaitu Rp 500 miliar pertahun.
Pada tahun 2018 laba bersih Bank NTT Rp 250,816 miliar dengan dividen mencapai 87,50 persen.
Tahun 2019 laba bersih Rp 236,475 miliar dengan dividen 87,50 persen. Tahun 2020 laba bersih Rp 336,289 miliar dengan dividen 87,50 persen.
Estimasi laba bersih tahun 2021 sebesar Rp 222,157 miliar dengan dividen hanya 50 persen. 5. Estimasi laba bersih tahun 2022 sebesar Rp 244,373 miliar dengan dividen hanya 50 persen.
“Itu sebabnya sejak tahun anggaran 2021 estimasi dividen yang masuk ke APBD tahun 2022 hanya sebesar Rp 29,640 miliar dan juga estimasi dividen yang masuk APBD 2023 hanya sebesar Rp 33,597 miliar, padahal sebelumnya dividen yang masuk ke APBD pernah mencapai angka Rp 70-an miliar,” tegas Gabriel Manek.
Menurut Faksi Golkar, kondisi ini pasti akan berlangsung terus sampai dengan tahun anggaran 2024, kecuali managemen Bank NTT dapat meningkatkan laba bersih mencapai target pemegang saham pengendali, yaitu Rp 500 miliar per tahun.
“Ini perlu diantisipasi secara baik dan benar dalam pengelolaan Bank NTT agar tidak terjadi penurunan yang signifikan lagi ke depan,” kata mantan Bupati Timor Tengah Utara ini. (np)







