Noto mengakui bahwa selama beberapa tahun terakhir Pemerintah NTT belum melakukan penyertaan modal, namun yang jelas bahwa modal merupakan investasi pemerintah yang diperlukan tetapi tidak harus dilakukan secara terus-menerus. “Sehingga ini perlu diperhatikan juga. Modal memang sangat penting, namun harus dilihat sebagai investasi yang bijak dan terukur, bukan diambil secara terus-menerus,” imbuhnya.
Sementara Plt. Dirut Bank NTT, Yohanis Landu Praing, menjelaskan banwa Bank NTT telah melakukan berbagai langkah konkrit untuk memenuhi modal inti Rp 3 triliun termasuk mengadakan KUB dengan Bank Jatim.
Menurutnya, Bank NTT juga sudah melakukan komunikasi dengan Bank DKI, namun rencana tersebut tidak dilanjutkan karena pemintaan Bank DKI yang cukup tinggi yakni meminta saham 51 persen serta posisi komisaris dan Direktur Utama.
“Modal inti Rp 3 triliun dan saat ini sudah mencapai Rp 2,3 triliun. Karena itu kami melakukan KUB dan mendorong Pemerintah Provinsi NTT, kabupaten dan Kota Kupang untuk tetap menyetor modal di Bank NTT sehingga terpenuhi modal inti. Kami hitung akan sesuai target di akhir tahun,” jelas Praing. (np)







