Kasus balita gizi buruk dan stunting, lanjut Retnowati, juga makin banyak ditemukan saat petugas kesehatan di semua puskesmas gencar melaksanakan PIS-PK untuk melihat persoalan setiap keluarga dari dekat.
Lewat program ini, petugas kesehatan melakukan pendataan terhadap balita dari rumah ke rumah sehingga ditemukan sejumlah kasus balita gizi buruk dan stunting yang belum terdata.
“Sebelum dilakukan PIS-PK, ada keluarga-keluarga yang memang tidak aktif melaporkan soal tumbuh kembang anak-anaknya. Padahal ada yang gizi buruk dan stunting. Nah, dengan PIS-PK setiap puskesmas sudah punya data sasaran per kelurahan by name by address (BNBA),” terang Retnowati.
“Jadi kalau kasus balita gizi buruk dan stunting meningkat, ya itu karena semakin banyak keluarga yang aktif untuk melaporkan tentang kondisi anak-anaknya. Ditambah lagi keseriusan petugas kesehatan untuk melakukan pendataan dari rumah ke rumah,” sambung Retnowati.
Untuk pencegahan dan penanganan masalah gizi buruk dan stunting, Retnowati mengaku sudah melakukan berbagai intervensi. Antara lain pemberian tablet tambah darah pada remaja putri sebagai calon-calon ibu dan ibu hamil untuk mencegah anemia, pemberian PMT bagi ibu hamil KEK (Kekurangan Energi Kronis), peningkatan kapasitas petugas dengan pelatihan PMBA (Pemberian Makan Bayi dan Anak) yang dilanjutkan dengan pelatihan kader PMBA sebagai pendamping ibu hamil dan balita di masyarakat.
Juga mendorong pemberian ASI eksklusif hingga 23 bulan, PMBA yang dilaksanakan dengan konseling maupun praktek kepada orangtua atau pengasuh, tatalaksana balita gizi buruk rawat jalan dengan pedoman PGBT dimana balita gizi buruk tanpa komplikasi dirawat dengan obat gizi atau Ready to Use Terapheutic Food (RUTF), pendistribusian vitamin A dan mineral mix, penyediaan obat cacing dan imunisasi lengkap serta pencegahan dan pengobatan diare.







