KUPANG kabarntt.id—Yohanes Sason Helan sangat menekankan kejujuran, disiplin dan profesionalisme dalam tugas dan tanggung jawabnya sebagai General Manejer Kopdit Swasti Sari. Tiga keutamaan inilah yang menghantar sosok ini sukses membesarkan Swasti Sari dengan modal di atas Rp 1 triliun saat ini.
Tiga keutamaan ini sangat kuat tertangkap dari ajang launching dan diskusi buku biografi Yohanes Sason Helan berjudul “Bangun Kesejahteraan Masyarakat NTT untuk Indonesia”, Sabtu (5/8/2023), di Hotel Kristal Kupang.
Diskusi buku berkemas talkshow ini menampilkan dua pembicara , yakni Romanus Woga (Wakil Bupati Sikka) dan Dr. Fritz Fanggidae. Hadir sekitar 100 orang yang memenuhi tempat acara.
Buku setebal 360 halaman yang ditulis Kanisius Teobaldus Deki, S.Fil, MTh ini mengisahkan perjalanan panjang Sason Helan terlibat dan membesarkan Kopdit Swasti Sari hingga sukses seperti hari ini. Sason Helan sudah menggawangi Swasti Sari sejak 30 tahun lalu ketika kopdit yang mulanya berada di bawah Yayasan Swasti Sari (Yaswari) Keuskupan Agung Kupang ini masih berusia 5 tahun.
“Tiga puluh tahun merupakan waktu yang cukup lama bagi saya mengabdi di Swasti Sari. Karena itu apa yang ditulis dalam buku ini mungkin hanya 10 persen dari perjalanan panjang bersama Swasi Sari itu,” kata Sason Helan.
“Saya mulai bekerja di lembaga ini tanggal 1 Mei 1993. Paginya terima SK dan malamnya bapak saya meninggal dunia. Ini sebuah refleksi yang tidak gampang. Dalam perjalanan saya mengatakan pekerjaan ini dihadiahi oleh alm. bapak saya, maka saya juga selalu menyampaikan kepada teman-teman manajemen, teman-teman pengurus, pengawas dan penasehat untuk bekerja dengan baik, kerja takut dengan Tuhan, takut dengan leluhur dan proses menjadi acuan kita untuk sukses,” ungkapnya.
Sason Helan melukiskan bagaimana dia harus berkelahi dengan Yaswari dan para pengurus karena sikap dan tekadnya untuk membesarkan Kopdit Swasti Sari. “Saya bilang kita harus jadi besar, tidak bisa seperti begini saja. Harus di depan, jangan sembunyi di belakang, “ katanya.
Nekad dengan sikapnya itu, Sason Helan kemudian membeli tanah untuk membangun kantor baru agar Swasti Sari semakin dikenal dan diminati banyak orang. Kantor baru itu terletak di pinggir jalan persisnya di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kelapa Lima, samping SMUN 2 Kupang di kawasan Wali Kota Kupang.
Perlahan-lahan Swasti Sari bertambah moncer. Anggota terus membengkak, aset semakin melonjak. “Kepada pengawas dan karyawan, saya selalu ingatkan agar kita tidak boleh melupakan tentang jasmerah (jangan sekali-kali melupakan sejarah). Karena proses hingga di titik ini tidaklah gampang, karena memang merupakan pertarungan agar lembaga ini menjadi tujuan masyarakat untuk simpan-pinjam. Itu sebabnya setiap kali penerimaan karyawan, saya selalu mengingatkan bahwa saat ini sudah sangat mudah dan nyaman. Sekarang ruangan suudah ber-AC, gedung-gedung bagus dan megah, seragam kantor yang standar, id card dan kemudahan lainnya,” seru Sason.
Sason juga menegaskan kepada masyarakat agar tidak pernah takut menabung di Swasti Sari karena aturan dan regulasi sangat ketat. Tidak ada karyawan yang menipu.
Rekrutmen karyawan baru juga tidak ada yang main mata atau nepotis. Harus profesional. Dengan cara ini, kata Sason, Swasti Sari mendapatkan karyawan yang jujur, loyal, tanggung jawab dan terlatih.
“Saya tidak pernah memandang siapapun, jika salah saya langsung pecat. Lembaga ini bersih, jika ada yang kasih kotor saya langsung pecat, tidak ada nego-nego. Lembaga ini milik anggota dan jadikan anggota sebagai raja dan ratu karena semua fasilitas megah ini semuanya milik anggota sehingga pelayanan yang baik dan maksimal harus diberikan kepada anggota,” tegasnya
Testimoni tentang Sason Helan dengan kiprahnya di Swasti Sari juga diakui Romanus Woga, Wakil Bupati Sika. Seperti diketahui, Romanus Woga merupakan perintis, motivator dan juga tokoh credit union (CU) di Indonesia. Reputasinya menembus batas negara. Puluhan negara sudah dikunjunginya untuk urusan membesarkan CU atau koperasi. Beberapa kali dia mesti berkantor di luar negeri.
Dalam testimoninya Romy, sapaan akrabnya, menggambarkan Sason Helan sebagai sosok yang peduli, profesional dan tekun membesarkan Swasti Sari. Romy mengakui Swasti Sari jadi besar seperti sekarang ini berkat kerja keras, kerja penuh disiplin dan jujur dari Sason Helan. (den/np)







