“Dunia digital pun telah merambah di dalam kehidupan menggereja. Jadi, tidak selamanya dunia digital ini berdampak negatif tetapi ada nilai positif juga untuk kehidupan umat manusia,” kata mantan Ketua Pengurus Gereja Agape Kupang ini.
Dalam testimoni dan refleksinya, Manafe mengaku, jabatan yang diemban ini hanya karena kasih dan kemurahan dari Tuhan.
“Karena itu tidak usah sombong. Mata Tuhan ada di segala tempat, mengawasi orang jahat dan orang baik,” ucapnya mengutip Kitab Amsal 15:3.
Ke depan, lanjut Manafe, diperlukan kerja sama dan kolaborasi yang efektif antara pemerintah dan pihak gereja untuk memperhatikan kesejahteraan umat.
“Kita perlu kerja yang kolaboratif dalam membantu dan memperhatikan rakyat untuk keluar dari jeratan kehidupan yang sulit. Bapak dan ibu Pendeta punya umat. Pemerintah punya rakyat. Mari kita kolaborasi,” ungkap Manafe penuh semangat.
Sebagaimana diketahui kegiatan seminar ini menghadirkan lima narasumber. Pertama, Pater Fritz Meko SVD, MA (mahasiswa Doktoral IAKN Kupang) membedah topik tentang Pandangan Antropologis-Teologis Masyarakat NTT dalam menyikapi tantangan di Era Digital Society dan Post Digital Society.
Kedua, Pdt. Dr. Lince Pellu (Dosen Unkris Artha Wacana Kupang) yang membedah Pandangan Gerakan Kaum Perempuan di NTT dalam menyikapi tantangan di era Digital Society dan Post Digital Society dalam perspektif teologis-antropologis.
Ketiga, Pdt. Anton Agustinus Ndun, S.Th (mahasiswa Pascasarjana IAKN Kupang Kelas A); dengan topik Peran Teologis-Antropologis Kristen dalam menghadapi tantangan di era Digital Society dan Post Digital Society dalam perspektif Kitab Suci (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.







