“Saran konkrit saya seperti apa produk yang pendeta itu bikin saya seperti hari ini. Saya mengharapkan pendeta itu sudah mulai ditempatkan pada sekolah-sekolah GMIT Kita lihat bahwa dulu kenapa sekolah GMIT begitu kuat. Contohnya saya, karena kami dilatih langsung oleh pendeta, tidak ada guru lain karena pendeta yang langsung ajar kami. Karena itu kami dilatih di gereja. Sebelum masuk SD kami sudah dilatih membaca. Sebelum masuk SD kami sudah dilatih berhitung,” jelasnya.
Ketua Sinode GMIT, Pdt. Dr. Mery Kolimon, dalam kesempatan tersebut juga mengungkapkan sukacita atas perayaan seratus tahun Injil masuk di Bolok.
“Warna yang dominan di Gereja ini warna kuning emas. 50 tahun kali dua. Biasa orang bilang 50 tahun itu tahun emas dan ini 50 kali dua, jadi memang tidak heran kalau semua penuh dengan kuning keemasan,” kata Pdt. Merry.
Pdt. Merry Kolimon sebagai ketua Majelis Sinode Harian GMIT mewakili segenap jemaat GMIT di 54 Klasis di Gereja ini mengucapkan selamat kepada jemaat Elim Bolok.
Pdt. Merry mengatakan, perayaan seratus tahun Gereja Elim Bolok tidak lepas dari SD GMIT Elim Bolok. Karena itu sebelumnya dia meminta agar para guru dan siswa SD GMIT Elim Bolok harus hadir karena menurutnya, perayaan sesungguhnya yang dirayakan adalah tentang merayakan 100 tahun peradaban masuk ke Bolok melalui pendidikan.
“Kalau kami punya gedung Gereja yang bagus, kalau ada pendeta yang datang silih berganti melayani di sini, langkah pertama itu adalah sekolah. Langkah pertama itu adalah pendidikan dan kita tidak boleh lupa dari mana kita datang. 100 tahun terlalu banyak hal terjadi. Hari ini 2022 langkah pertamanya 1922. Itu tahun yang tidak enak punya dan tidak ada satu orang yang bisa berdiri sekarang dan bilang tahun itu saya ada di Bolok. Kami di TTS bilang itu omong kosong,” jelas Pdt. Merry. (np)







