Kenakan Busana Manggarai, Melki Laka Lena Apresiasi Kontribusi Orang Manggarai

mll hut ri
Melki Laka Lena dalam balutan busana Manggarai

Kepada Melki, Adrianus mengatakan ada konsekuensi yang suka atau tidak suka harus dipikul Melki. “Terutama atas apa yang telah menjadi komitmen Kraeng Melki di hadapan warga setempat, mesti dijalankan atau dipenuhi. Jika tidak maka para leluhur yang akan menagihnya,” ujar Adrianus.

“Demikian juga selama Kraeng Melki melintasi bumi Manggarai mulai dari Jembatan Wae Mokel perbatasan antara Ngada dan Manggarai Raya hingga Selat Sape, perbatasan Manggarai dengan Bima NTB, maka tak ada siapapun yang berani mengganggu keamanan dan keselamatan jiwa dan raga Kraeng Melki. Sebab para leluhur di Manggarai yang akan melindungi Kraeng Melki dari segala yang jahat. Itulah arti penting penggunaan pakaian adat Manggarai oleh Kraeng Melki,” kata Adrianus.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Adrianus mengingatkan, ada misteri budaya di balik pakaian adat Manggarai, dan budaya mana pun di Kepulauan Flores, NTT, dan Indonesia bahkan dunia. “Karena itu, jangan main-main dengan pakaian adat,” tegas Adrianus.

Adrianus mengatakan, Panggilan “Kraeng ” untuk Melki Laka Lena merupakan bentuk penghargaan sekaligus penghormatan tertinggi dalam budaya Manggarai sekaligus sebagai tanda “ikatan” atau “pemeteraian” secara adat antara Melki dengan para Kraeng seluruhnya di Bumi Manggarai mulai dari Wae Mokel hingga selat Sape.

“Saat seseorang sudah disapa atau disebut Kraeng, itu artinya dalam diri yang bersangkutan hampir pasti penuh dengan berbagai hal positif. Dan, tidak saja patut dihormati tapi juga diteladani layaknya seorang pemimpin. Sehingga tidaklah mudah untuk mendapatkan sebutan “Kraeng” di mata orang Manggarai. Sekali seseorang sudah disebut Kraeng oleh sesama, itu suatu penghormatan yang sangat tinggi, dan tak seorangpun berani berbuat kasar pada seseorang yang sudah disebut Kraeng,” pungkas Adrianus.

Pos terkait