Praktek kapitalisme sering mewarnai investasi, kaum buruh hanyalah obyek pabrik, yang melahirkan kesenjangan antara kaya dan miskin.
“Sehingga radikalisme menghadirkan kekerasan fisik dan psikis, agama hanya dijadikan barang dagangan untuk kepentingan kursi kekuasaan. Aksi anarkis dilakukan sebagai strategi gerakan sosial, disintegrasi dan separatis menjadi komoditi politik sekelompok orang,” tandas Spitho.
Ditambahkannya, terorisme terus mempertontonkan aksi kekejaman kepada sesama anak bangsa. Korupsi tumbuh subur di lingkungan pemerintah, wakil rakyat bersuara mewakili kepentingan pemodal dan aparat penegak hukum tidak mampu memberikan keadilan bagi rakyat kecil.
Karena itu, menurutnya, boleh dikatakan bahwa Pancasila sudah tidak lagi menjadi pandangan dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dengan tegas Spitho menyampaikan Komunitas Pemuda Anti Radikalisme Manggarai Barat (Kopearad) yang merupakan bagian dari generasi penerus bangsa, terus berupaya memenangkan Pancasila dalam berbagai aspek kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia.
Kopearad Mabar meyakini bahwa persoalan-persoalan di atas bisa terselesaikan hanya dengan mengembalikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dirinya berharap, Pancasila harus menjadi pandangan dan pedoman hidup pribadi dan kolektif masyarakat Indonesia. Pancasila yang lahir dari keberagaman agama, suku, budaya dan ras tentu menjadi batu penjuru yang kuat melawan segala bentuk penindasan, radikalisme dan intoleransi keberagaman. (obe)







