Oleh Pater Kons Beo, SVD
Bacaan I Kisah Para Rasul 13: 14. 43 – 52
Mazmur Tanggapan: Mzm 100: 2.3.5
Ref: “Kita ini umatNya dan kawanan domba gembalaanNya”
Bacaan II Wahyu 7:9.14b – 17
Injil Yohanes 10: 27 – 30
“Domba-dombaKu mendengarkan suara-Ku; Aku mengenal mereka dan mereka mengikuti Aku”
Yoh 10:27
(Oves meae vocem audiunt: et ego cognosco eas, et sequuntur me)
Kawan ku…
Ada yang sepantasnya serius kita perhatikan. Suara yang seharusnya didengar menjadi tidak (ingin) didengarkan lagi.
Di situ, kawan ku… ada terlalu banyak jarak yang tercipta. Asing dan menjauh. Iya, kita menjadi asing satu sama lain. Dan lebih parahnya lagi kita menjadi ‘tak akrab dan hilang semangat untuk terus saling mengenal dalam kedalaman.’
Kawan ku…
Kita tak sangkali kenyataan. Dunia makin sibuk. Penuh pergerakannya. Dengan ‘jam terbang yang terus meningkat.’ Ini bukan salah siapa-siapa. Iya, itulah kenyataan yang mesti dihadapi.
Lihatlah kawan ku…
Orangtua terlalu sering tinggalkan alam keluarganya. Orang lebih banyak tinggalkan tempat di mana seharusnya ia berada. Di muaranya, orang jadi ‘asing, tak dikenal, tak didengar, tak dituruti’ di tempat di mana seharusnya ia lebih banyak berada dan berbakti.
Kawan ku…
Kuteringat lagi alarm itu. Dikutip Rowan William dari Amma Syncletica. Kira-kira isinya dibahasakan secara lain: “Cintailah dan beradalah lebih banyak di tempat di mana seharusnya kau berada. Jika seekor burung terlalu lincah gerak berpindah seseringnya, maka telur-telur yang dieraminya tak bakal jadi sebuah harapan dan kehidupan baru.”







