Tokoh Nasional Katolik Bicara Partisipasi Publik di Era Baru Indonesia

IMG 20241126 WA0016

Tujuan pertemuan 23 November di Rawamangun, Jakarta, antara lain, membekali para rasul awam dengan wawasan dan optimisme agar dapat bekerja demi kepentingan bersama dengan tetap berlandaskan Ajaran Sosial Gereja. “Ini menjadi pedoman dan penggerak dalam karya sosial, ekonomi, dan politik di masyarakat,” Suyadi menambahkan.

Dipandu wartawan Kompas Andreas Maryoto dan wartawan senior Hermien Y. Kleden, dinamika diskusi Pertemuan Kerasulan Awam ke-2 sepanjang tiga jam menegaskan dua substansi. Yaitu, menghadirkan nilai-nilai terbaik di tengah masyarakat luas. Dan, mengelaborasinya dalam aksi konkret untuk menjembatani dan mengadvokasi kepentingan publik.

Simon Lili Tjahjadi merujuk pada Pancasila sebagai sumber utama nilai-nilai terbaik kehidupan berbangsa dan bernegara. “Pancasila mengandung semua nilai penting dalam komunitas kehidupan bersama. Ini cocok sekali dengan perjuangan nilai Katolik,” ujar Romo Simon Lili Tjahjadi.

Simon menegaskan ada dua keutamaan sikap yang perlu dihayati masyarakat dalam partisipasi publik. Yaitu, bersikap positif dan membangun tanpa kehilangan daya kritis terhadap hirarki dan pemerintah – yang disebut Simon sebagai sikap kenabian.

Melengkapi RD Simon Lili, pengusaha senior Anton J. Supit menegaskan masyarakat adil-makmur dan keadilan sosial harus menjadi fondasi karya dan peranan awam di tengah publik. Anton juga menekankan pentingnya kaderisasi dan sinergi semua kekuatan positif untuk mencapai tujuan ini.

Pelibatan dan sinergi kekuatan publik juga digarisbawahi oleh Inosentius Samsul. Kepala Badan Keahlian DPR ini mencontohkan pentingnya keterlibatan publik dalam pembuatan berbagai kebijakan public. “ Terutama dalam penyusunan Undang-Undang melalui akses-akses yang tersedia dengan sistematis, kritis dan terukur,” ujarnya.

Pos terkait