“Output tersebut antara lain rekan SR dan SSR memiliki kemampuan dalam berkoordinasi dengan dinas terkait, memiliki indikator yang harus dicapai, memahami sistem dan prosedur program, keuangan, M&E, logistik, dan administrasi,” ujarnya.
Dalam sambutannya Wakil Walikota Kupang, Herman Man, mengungkapkan untuk di beberapa daerah di NTT, kasus malaria masih menjadi penyebab kematian yang tinggi pada sarana-sarana kesehatan, meskipun untuk Kota Kupang sendiri sudah status eliminasi untuk tiga tahun terakhir.
Dikatakannya, untuk beberapa daerah di NTT penyakit malaria sudah sangat familiar bagi masyarakat, bahkan sampai pada cara pengobatannya. Namun Wawali mengatakan perlunya pengawasan terhadap beberapa jenis obat malaria yang beredar di masyarakat karena dapat menyebabkan resistensi.
Kepada peseta pelatihan, Herman Man mengatakan, terdapat tiga hal penting yang harus dimiliki oleh peserta untuk diterapkan di lapangan.
Pertama, perlunya pemahaman dan pengetahuan tentang manajemen baru seperti community base atau pendekatan berbasis komunitas. Hal ini dicontohkan Herman Man seperti penanganan pandemi Covid-19 di Kota Kupang yang berbasis komunitas di tingkat mikro mulai dari RT/RW.
Hal yang sama juga dilakukan terhadap penanganan stunting di mana perlu melakukan kerja sama dengan berbagai pihak.
“Prinsip yang sama untuk penanganan malaria, perlu melakukan pendekatan pentahelix, bukan saja dari pemerintah tetapi melibatkan tokoh agama, pengusaha, akademisi dan pers yang diikuti dengan peningkatan sosialisasi di wilayah kerja masing-masing sehingga ada pemahaman dan pengetahuan akan eliminasi malaria di tengah-tengah masyarakat secara baik dan benar,” jelas Herman Man.







