Oleh : Pater Kons Beo, SVD
“Mari kita tanya dalam hati kita, apakah kita ini berjuang untuk suatu kepentingan yang lebih besar yaitu kedamaian dan keutuhan NKRI….” (Abdurrahman Wahid-Gus Dur, Presiden ke IV RI, 1940-2009)
Benturan Yang Tak Berakhir
Mari kita ingat Aristoteles. Tulisnya dalam Nicomachean Ethics, “Kepalsuan dalam dirinya sendiri adalah hina dan salah sedangkan kebenaran itu luhur dan terpuji.”
Jauh sesudah Aristoteles, di alur pemikiran yang sama, Immanuel Kant mencatat, “Dengan berbohong, seseorang membuang atau meniadakan martabatnya sebagai pribadi.”
Manusia, dalam dirinya sendiri, pun terlebih dalam interaksi sosial dipaksa untuk berhadapan dengan benturan antara kebenaran dan kepalsuan. Benturan yang teramat sangat ini timbulkan benjolan krisis kecurigaan yang sengit dan tak terhindarkan.
Apa yang diyakini sebagai piramide tangguh kebenaran, toh dianggap lemah bahkan rapuh. Disinyalir, “Orang kini tidak percaya begitu saja akan apa yang disebut kebenaran oleh para politisi, dokter, eksekutif bisnis, imam dan terutama media.” Justru para praktisi ini serta media dianggap sebagai perawat dan lahan subur bagi benih kepalsuan.
Lumbung Kecurigaan
Kita hidup dalam masalah saling silang informasi yang deras dengan arus ‘saling curiga.’ Tak terbendung. Nafsu ingin tahu dan kelaparan akan informasi ditanggapi telak oleh media, misalnya, dengan menu sajian berpoles publikasi kata-kata gelegar mengandung umpan: “Kupas Tuntas, Terjawab Sudah, Akhirnya Ternyata…”
Tak hanya itu. Rasa curiga dan haus akan kebenaran membawa manusia kepada muara kepastian melalui dinamika “ketelanjangan seluruh masyarakat.” Disinyalir, konon, misalnya, penyalur buku Amazon daftarkan lebih dari seribu buku dengan judul yang berbau atau bermakna telanjang (The Naked), mulai dari koki yang telanjang (The naked Chef) hingga Pastor Paroki yang telanjang (The Naked Parish Priest).
Dalam narasi publik, orang bisa merasa diri sebagai pahlawan, saat ia berleluasa berkisah atau kupas tuntas atau menelanjangi tentang seseorang. Ini pun yang terjadi dalam anggapan bahwa adalah ‘suara kenabian’ (seruan profetik) jika tokoh-tokoh publik dilucuti ‘hingga tidak ada sisa memang.’ Dan di situlah terasa ada keyakinan bahwa kebenaran sudah berbicara.
Fakta dan Fiksi
Tetapi apakah benar sedemikian adanya? Dalam kajian sosial, sekian banyak fenomena dapat ditelisik. Di antaranya, “Suatu kebudayaan yang digerakkan oleh cerita mudah sekali kehilangan cita-rasa akan kebenaran. Kita menghabiskan begitu banyak waktu untuk hidup di dalam dunia imajiner sehingga sulit bagi kita untuk membedakan antara fakta dan fiksi.”
Kita mudah berkumpul untuk bicara ‘kebenaran versi sepihak.’ Namun terkadang, naluri kumpul-kumpul demi kibarkan kebenaran sendiri itu sebenarnya sudah bergeser ke alam ‘saling menyesatkan’ yang disadari atau tidak disadari kelompok naluri kumpul-kumpul itu. Itulah sebabnya, yang dibingkai sebagai fakta sebenarnya membahasakan ‘fiksi, halusinasi, imajinasi atau fantasi.’ Artinya?
Apa yang dicari dan dikibarkan sebagai kebenaran ternyata adalah usaha pembenaran dari ‘apa yang kita harapkan atau idamkan atau pun ilusi kita mengenai satu peristiwa atau terhadap individu tertentu. Ingin suarakan kebenaran tetapi dengan isi yang penuh kepalsuan. Tentu di balik semuanya terdapat kepentingan kita yang mesti dirawat dan diutamakan.
Obyektivitas vs Suara Mayoritas
Di sisi lain, terkadang obyektivitas yang jadi salah satu pilar kebenaran sungguh terasa tak bertaji. Terhadap seseorang, misalnya, penilaian dan sikap kita bisa berangkat hanya atas dasar kualitas relasi pribadi dengan orang tersebut.
“Kita punya orang, orang pujaan dan junjungan kita” bisa dilukiskan bagai malaekat surgawi dan sang penyelamat keadaan, sementara “mereka punya orang atau orang lain” dianggap beraroma lusifer dan pembawa malapetaka. Tak peduli apakah itu sesuai kenyataan atau sebaliknya.
Dalam realitas masyarakat pluralis, gejolak ‘kebenaran mayoritas’ tetap jadi kenyataan yang tak terbantahkan. Kekuatan kebenaran jenis ini adalah karena ‘sudah banyak orang tahu, banyak orang sudah dengar, atau sudah jadi bahan konsumsi mayoritas publik.’
Kebenaran mayoritas dalam modusnya amini sungguh teknik: propaganda, kampanye, siaran publik. Sebuah isu dapat meledak tenar karena gesit licahnya para anggota tim kampanye atau para anggota komisi penyiaran. Tak peduli akan bobot atau kualifikasi fakta kebenarannya.
Peran Media Komunikasi
Ketika zaman jadi sekian maju, terutama di era media komunikasi yang makin canggih, sebaran berita, kisah dan peristiwa jadi tak terbendung. Tentu media komunikasi tak bisa disalahkan, karena toh semuanya jadi alat – prasarana komunikasi.
Yang jadi titik perhatian adalah manusia itu sendiri, baik sebagai produsen atau penyebar info, maupun sebagai konsumen berbagai informasi melalui konten-konten medsos itu. Adakah kesadaran dan tanggung jawab moral di baliknya? Tak ditampik kenyataan bahwa kemajuan hidup manusia sungguh didukung oleh sebaran info, berita dan isi kampanye yang inspiratif dan solutif serta mencerahkan.
Tetapi, semua sebaran info atau berita rasa-rasanya tak pernah cukup untuk hapuskan kecurigaan. “Kecurigaan tak pernah beranjak.” Sebab diyakini ada sesuatu yang masih disembunyikan. Segala daya upaya dikerahkan untuk mencari bukti demi menuju fakta. Inilah era transparansi dengan tuntutan yang terang menderang. Tanpa suram penuh kabutnya.
Saling Silang Kepalsuan dan Kebenaran
Nafsu demi fakta terkadang, itu tadi, berkutat sekitar imajinasi yang dipaksa sebagai ‘kebenaran.’ Atau pun lewat ‘pengakuan yang didapat sebagai hasil dari tindak kekerasan.’ Dan itulah kebenaran walau pun sebenarnya kebohongan yang dipaksa sebagai ‘benar adanya.’
Tetapi terkadang pula ‘bicara lurus dan apa adanya’ bisa berdampak pada konsekuensi ‘buruk’ yang harus dipikul. Pun bisa dianggap sebagai ‘senjata makan tuan.’ Sebab ungkapan hati yang setulusnya tidak bisa dipercaya pada struktur yang tak tertib bicara dan bersuara serta tak bijaksana dalam bersikap selanjutnya.
Sebab itulah perang antara kebenaran dan kepalsuan tampak tak akan pernah berakhir. Yang palsu sering berakting seolah-olah benar. Yang nyata-nyata bertindak kafirun dan penuh intolerannya bertampilan seolah-olah saleh dan beriman. Yang benar diplintar-plintir kian kemari dan lalu dipersalahkan. Sebab itulah benar bila “dunia ini pangung sandiwara. Ceritanya mudah berubah.”
Krisis akan kebenaran selalu mendera manusia. Disinyalir, “Salah satu krisis kebenaran adalah bahwa hidup kita terlalu tergesa-gesa dan sangat sibuk sehingga kita tidak punya waktu untuk melihat satu sama lain dan sesuatu dengan tepat.” Di titik inilah masyarakat atau individu butuhkan ‘alam kontemplasi.’ Dalam artian inilah ketenangan pikiran dan waktu sungguh dituntut.
Antara kebenaran dan kepalsuan, memang dibutuhkan telak cek fakta dan segala bukti empiriknya. Tetapi, sekali lagi, alam batin ‘pertapaan-meditasi-kontemplasi’ penuh teduh untuk melihat dalam terang keseluruhan (integral-holistik) adalah keharusan. Dan tentu berujung pada segala dampak dan konsekwensinya. Konkritnya? Mari kita menuju Tahun Politik Pilpres 2024.
Demi Indonesia Raya Tercinta
Anggap saja, semisal, Koalisi A dengan Capresnya Anis Baswedan, Koalisi B dengan Capresnya Prabowo Subiyanto, dan Koalisi C dengan Ganjar Pranowo sebagai Capresnya. Jelaslah setiap koalisi akan menjunjung usungannya sebagai kebenaran dan pribadi yang tepat demi seluruh tumpah darah Indonesia. Lalu?
Langit Indonesia kini lagi bertaburan berita. Perang informasi, analisis atau diskusi, wawancara, sorot tokoh sungguh bergejolak sana-sini. Jelas tak ada capres yang sempurna. “Politik itu banyak sisi tidak jujurnya,” demikian pun hal yang sama dalam ruang agama. Apalagi bila agama justru ditunggangi demi kepentingan politik. Bagaimana pun kajian dan dinamika politik yang sehat sungguh dituntut demi bangsa dan negara.
Kata Akhir
Tetapi demi Indonesia Raya yang Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika dan NKRI, seluruh tumpah darah Indonesia tentu mesti cerdas dan bijak dalam memilih. Untuk tidak ditelan mentah-mentah oleh kata-kata indah penuh ranjau dusta, yang sebenarnya bisa berdampak pada retaknya perahu kebangsaan. Dan kita semua pasti tak menghendakinya.
Bukankah demikian?
Verbo Dei Amorem Spiranti
Penulis, rohaniwan Katolik, tinggal di Roma







