Setelah menjalani masa pembuangan di Pulau Flores selama empat tahun, sembilan bulan dan empat hari, pada tanggal 18 Oktober 1938 Bung Karno meninggalkan Ende dengan naik kapal yang membawanya ke Bengkulu. Bung Karno telah pergi sambil membawa kenangan yang tak terlupakan tentang Pulau Flores, khususnya Ende.
Selama dibuang di Ende, Soekarno bergaul dengan para pastor dan misionaris setempat. Mereka kerap berdiskusi tentang agama mondial. Karena itu, Ende telah menjadi tempat bersejarah nan mempesona, tempat di mana Bung Karno melewati sebuah pergumulan besar, sebuah kota pemulihan diri, pembentukan karakter dan kepribadian, sifat, dan jiwa perjuangan dari seorang pemimpin bangsa. Bahkan sebuah tempat yang menjadi cikal bakal lahirnya Pancasila sebagai dasar negara Indonesia, tulis Pemimpin Umum Majalah Prisma, almarhum Daniel Dhakidae, Ph.D.
Di tikungan ini sebagai anak bangsa yang ada di Nusa Tenggara Timur, mustinya berbangga. Karena nilai-nilai luhur yang terkandung di dalam Pancasila sesungguhnya terlahir dari rahim Bumi NTT khususnya di Kota Ende Sare (tercinta). Kebanggaan yang tidak saja membuat kita semua seakan terlena dalam rutinitas dan pergumulan aneka persoalan bangsa namun harus ada formula yang tepat untuk menjadikan Pancasila sebagai nafas perjuangan. Artinya, ketika kita merayakan hari lahirnya Pancasila di Kota Ende; event tersebut harus menjadi energi bersama seluruh komponen anak bangsa untuk memaknai dan mengimplementasikan nilai-nilai luhur Pancasila dalam peri kehidupan keseharian.





