“Karena itu, Golkar itu anti yang namanya politik SARA; suku, agama, ras dan antargolongan. Di Golkar tidak ada SARA. Saya paling benci kalau ada yang singgung soal suku dan agama. Jadi saya ingatkan kader muda Golkar untuk tidak terjebak politik SARA, apalagi politik transkasional. Nasib kita di politik itu Tuhan sudah atur,” tegas Melki.
Melki juga mengingatkan bahwa sejak era reformasi tahun 1998, Golkar sudah berpisah dengan pemerintah (birokrat) dan TNI (tentara), yang dulu dikenal dengan sebutan jalur ABG (ABRI, Birokrat dan Golkar). “Sekarang Golkar sudah pisah dari pemerintah (birokrasi) dan tentara,” ujarnya.
Karena itu, jelas Melki, saat ini kader Golkar harus bisa menunjukkan kerja nyata. “Kita ikat rakyat dengan kebaikan dengan pola kerja yang baik. Untuk itu, Forum Golkar Academy NTT ini jadi momentum berproses. Jatuh bangun itu hal biasa dalam dinamika partai. Politisi itu harus siap mati berkali-kali tapi harus bangkit kembali,” katanya.
Melki menambahkan, kunci utama dari semua itu adalah kesiapan melayani orang banyak, juga perlu adanya kerendahan hati.
“Pesan saya, uruslah partai dengan baik. Tidak boleh jauh dari rakyat karena orang yang sukses itu perlu banyak mendengar dan belajar. Harus bisa berbeda dari yang lain. Saya berharap 30 peserta Golkar Academy NTT angkatan pertama ini bisa menjadi motor untuk bisa mewujudkan karya dan kekaryaan Golkar,” pintanya.
“Untuk itu, politik harus kita kendalikan. Artinya kebaikan harus lebih dominan untuk bisa mengalahkan politik uang yang makin masif dalam Pemilu 2024 ini,” tegas Melki.







