“Pertemuan maraton yang dilakukan Gubernur Melki dilatari oleh jam terbang dan pengalaman panjang di dunia politik. Melki sangat tahu bahwa sebagian besar anggaran pembangunan negara ini dikendalikan dari Jakarta. Dari total Rp 3.600 triliun dana pembangunan tahun 2025, hanya sebagian kecil yang ditransfer ke daerah. Yaitu kurang dari 30%. Artinya, sisa dana itu, yaitu 69% hingga 70 % dari total Rp3.600 triliun itu tetap ada di Jakarta. Artinya, anggaran itu sangat tergantung power Presiden dan para menteri. Karena itu, gerak cepat Melki-Johni bertemu dengan semua pihak terkait adalah dalam rangka konsolidasi kekuatan dan kebijakan. Melki-Johni ingin berbicara dari hati ke hati dengan semua pihak untuk membantu NTT,” jelas Master Ilmu Komunikasi lulusan Universitas Padjadjaran Bandung.
Sudah Punya Kekuatan
Dia juga menjelaskan, hal berikut yang bisa dibaca adalah ada ketulusan dan keseriusan. Karena dua sosok ini, Melki-Johni, ingin mewujudkan janji-janji kampanye mereka. Terutama gebrakan besar dalam hilirisasi tanpa tambang. Gagasan besar ini hanya bisa diwujudkan jika ada topangan anggaran dan banyak program yang bisa ditarik dari Jakarta untuk masuk ke desa-desa.
“Menurut saya, dengan adanya komunikasi yang sangat intens dengan semua pihak sebelum pelantikan ini, Melki-Johni sudah punya kekuatan yang cukup untuk memulai. Minimal mereka akan langsung bekerja cepat usai dilantik. Sehingga bisa dikatakan bahwa secara ideal, ada optimisme bahwa di tangan Melki-Johni, NTT akan punya masa depan yang lebih baik. Meski semua pihak juga harus realistis bahwa keduanya bukan pesulap. Butuh waktu bagi keduanya untuk membenahi banyak hal,” tegasnya.







