MULANYA adalah kepedulian. Kepedulian itu membakar dan menyulut semangat Remigius Nong. Aktivis kemanusiaan di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) ini kemudian mendermakan diri untuk anak-anak sekolah dasar.
Pegiat literasi ini kemudian mengumpulkan anak-anak sekolah yang terkendala pandemi Covid-19 untuk belajar bersama. Dia prihatin dengan nasib anak-anak yang tidak bisa ke sekolah dan mendengar pelajaran langsung dari para guru.

Anak-anak yang tidak bisa ke sekolah ini perlu dibantu. Dengan uang pribadi seadanya, Remigius memulai kegiatan belajar di sebuah pondok di tengah perkampungan. Letaknya di RT 037 RW 009 Kelurahan Wuring, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur.
Saban pagi dia menyatu dengan anak-anak di kebun. Dia bertindak sebagai guru. Membagi ilmu dan pengetahuan. Sama-sama membaca.
Remigius sadar betul. Anak-anak didiknya itu bukan kurang minat bacanya. Yang jadi soal adalah akses yang tidak menjangkau secara menyeluruh.

Saat ini sudah 34 anak yang mengikuti dan mendengar pengajarannya di pondok literasi yang diberi nama Restorasi. Setiap hari para muridnya sangat menantikan dia mengajar di kebun.
Setiap hari saat berjumpa dengan anak didiknya, Remigius membawa kumpulan buku pelajaran hingga alat mewarnai. Dari buku-buku itu Remigius mengajar anak didiknya. Mereka sangat antusias.







