Renungan Minggu, 31 Oktober 2021

ilustrasi renungan 2

Oleh P. Kons Beo, SVD

Bacaan I Ulangan 6:2-6

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Mazmur 18:2-3a.3bc-4.47.51ab

Bacaan II Ibrani 7:23-28

Injil Markus 12:28b-34

‘CINTA ada di sana, hinggap di jiwaku dan pasti akan datang di hidupmu’

(anonim).

TAK ada KISAH yang semulia selain KISAH Cinta Kasih. Kata-kata Yesus berawal dari pertanyaan seorang Ahli Taurat: Perintah manakah yang paling utama? (Mrk 12:28b).

ORANG bijak punya perenungan: Mestikah Cinta Kasih dihayati hanya karena itu adalah sebuah perintah? Cinta Kasih yang dihidupi akibat satu tekanan luaran, bisa menjadi satu keterpaksaan. Tak membebaskan!

BUKANKAH ada banyak perintah yang justru tak ditaati, dihormati serta dihidupi karena manusia dipaksa (diperintah) untuk menjalankannya? Atau pun sebaliknya, terciptalah militerisme cinta kasih yang timbulkan kepatuhan palsu yang mematikan?

SEMANGAT Kasih mesti bertolak dari alam batin yang sejuk, bebas, dan lapang. Tanpa tekanan. Tiada kendali yang sungguh mengikat. Cinta Kasih yang sungguh menggerakkan manusia sebagai citra Allah yang mulia.

SEGALA kepenuhan jiwa  merdeka manusia mesti jadi alam subur penghayatan Cinta Kasih. Karena itulah Yesus bicara tentang Cinta Kasih yang dibingkai dalam aura KESEGENAPAN: hati, jiwa, akal budi dan kekuatan.

MENGASIHI Tuhan Allah sejatinya adalah ‘kesegalaan diri’ yang pasrah dalam Kasih Allah sendiri. Dan dari situlah manusia dapat tiba dalam kasih akan sesama yang sesungguhnya. Karena itu pulalah maka Kasih kepada Allah itu tak terpisahkan dari Kasih terhadap sesama.

MANUSIA yang mengasihi Tuhan adalah  manusia yang: sungguh telah merasakan dan mengalami kasih Tuhan dan karenanya ia pasti sanggup menghormati segala ciptaanNya.

KERANCUAN kasih kepada Allah nyata saat manusia merasa bahwa ia bertindak seolah-olah demi dan atas nama Tuhan, yang ternyata sungguh di luar: hati, jiwa, akal budi, segenap kekuatan!

PENGKHIANATAN terhadap Cinta kasih terjadi saat adanya pengabaian akan nasib hidup sesama yang tak beruntung. Manipulasi terhadap Kasih akan Tuhan nyata saat ada pembenaran akan segala alam pikiran, perkataan, dan perbuatan egosentrik yang menghancurkan sesama atas nama Tuhan!

SEPERTI Tuhan sungguh mengasihi segenap ciptaanNya, termasuk manusia, maka seperti itulah manusia beriman dipanggil untuk mencintai semesta dan sesama manusia! Dengan seluruh kesadaran dirinya.

ADALAH tantangan yang tak kecil demi satu penghayatan Cinta Kasih surgawi dan duniawi saat manusia  memang ada dalam kenyataan hidup penuh hadangan yang mesti dihadapi dalam keterbatasan (kerapuhan).

TANGAN terkatup atau terbuka dalam doa penuh hening, bisa juga menjadi tangan yang ‘terkunci’ untuk tak  bersolider, dan bahkan bisa menjadi tangan terayun untuk menghancurkan!

MULUT yang terbuka dalam doa dan nyanyian pujian dan syukur pada Yang Kuasa, bisa pula berubah jadi mulut yang darinya terlontarlah sumpah serapah, hinaan, dan berbagai ujaran kebencian serta fitnaan terhadap sesama. Mulut yang gemar menistakan sesama!

SESUNGGUHNYA marwah Kasih Kristiani itu bukanlah narasi, bukan puisi, bukan kumpulan nasihat saleh, bukan pula aliran arus hedonisme verbal. Sebab jika demikian, tempat kita cuma sebatas “Tidak jauh dari Kerajaan Allah” (Mrk 12:34).

SEMENTARA, dengan penuh harapan, kita memang harus berjuang untuk sungguh menjadi warga Kerajaan Allah yang tahu menjelaskan Cinta Kasih sebagai amal kasih, sikap perbuatan serta tindakan yang nyata!

ANDAIKAN matahari itu sumber Kasih Ilahi yang menerangi semesta, ia sudah amat jelas untuk menuntun manusia demi melihat segalanya dalam cahaya Kasih pula.

Verbo Dei Amorem Spiranti

Selamat Hari Minggu, Tuhan memberkati

Pos terkait