Sepak Pojok : R R T

bb49ee3cfe72b44b80dfe5de64178d55859a8565c96a60c16eda65689ba1b870.0

Oleh Kons Beo

‘Kau menuduh sengit sesamamu yang bukan-bukan; jangan-jangan kau sendirilah yang banyak bukan-bukannya itu…’
(Sang Bijak)

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

 

Selalu saja ada cela untuk layani rasa benci itu. Fitnah dilontarkan. Cemar ditumpahkan. Isu tebar berhembus hening bahkan gaduh. Yang model begini kata si pelantun, “Berguncing ke sana sini. Melilitkan isu di lehermu. Mengibaskan suasana panas…”

Roy, Rismon, Tifa (RRT) adalah aroma rasa benci yang telah menggumpal. Itu yang keras diduga. Sepertinya tak samar lagi. Apalagi panggung telah didapat, atau disajikan atau dikreasi. Rakyat Bersuara terkesan dipadatkan dalam (hanya) RRT lah bicara sesukanya.

Maka di situ, hak paten bicara ditajamkan. Siapapun wajib hukumnya untuk mendengar. RRT memang telah kecanduan bicara. Gaya bertuturnya pun bagai sepeda motor berknalpot racing yang tak tunggal pastinya. Sebab ketiganya tentu wakili banyak cerobong yang ingin asapi langit Nusantara. Biar jadi sumpek serentak menggelegar.

Dan lagi, penuh yakin RRT sendiri kumandangkan kepakarannya. Punya dasar akademik setangguh beton, sekeras cadas. Bicara atas dasar pilar-pilar yuridis nan kokoh, dan itu dinutrisi oleh kevokalan suara ganas kembaran Kurnia Tri Royani dan Ahmad Khozinudin.

Bagi RRT, rugi ceritanya sekiranya segala yang scientifik, ilmiah, atas nama keahlian, penelitian, analisis berbasis data itu cuma dikandangkan sebatas tembok dan dinding-dinding kampus! Semuanya mesti digaung-gemakan di alam terbuka. Karena itulah ekspansi lincah dari gelanggang ke gelangang mesti dikreasi. Arena mesti diciptakan demi ‘kebenaran dan kemenangan.’

Pos terkait