Bacaan I Kisah Para Rasul 20: 28 – 38
Mazmur Tanggapan: Mzm 68: 29-30.33-35a.35b.36c
Ref: “Hai kerajaan-kerajaan bumi, menyanyilah bagi ALLAH”
Injil Yohanes 17:11b-19
“….supaya penuhlah sukacitaKU di dalam diri mereka.” Yoh 17:13
(Ut habeant gaudium meum impletum in semetipsis)
Kawan ku…
Ada yang ingin kubilang padamu, ”Tolong ka! Jangan terlalu serius pasang muka pelit senyum tu.”
Tentu, ini tidak dimaksudkan agar kita harus “royal senyum lebar tebar pesona sembarang.” Bukan itu!
Kawan ku…
Katanya, “Raut, mimik, air muka itu ekspresi lahiriah yang ungkapkan adanya perasaan atau emosi tertentu. Bahwa kita lagi sedih, galau, marah, kecewa, lagi tidak enak badan atau juga lagi cerah ceriah, bahagia, penuh sukacita meletup-letup.
Kawan ku…
Kita, murid-murid Yesus, Gereja, miliki isi dan ziarah hidup penuh sukacita. Namun, ini bukanlah sukacita ‘sesaat dan tiba-tiba.’ Yang hanya hanya mengusir ‘sedih dan segala susah sesaat pula.’
Kawan ku…
Yang dibawa dan diwartakan Yesus adalah ‘Evangelii Gaudium.’ Sukacita Injil. Dan Sukacita Injil itulah yang sepantasnya jadi aura dan citra keseharian hidup. Dalam apapun situasi yang dihadapi dan dialami.
Yesus berdoa pada BAPANYA agar sukacitaNYA tetap bertahan dalam diri para murid, dalam Gereja, dalam diri setiap kita.
Kawan ku…
Senyatanya atas Nama dan Spirit INJIL – Kabar Gembira, kita tak punya alasan untuk terus saja ‘pasang muka bebengkak, muka asam dengan sesama. Iya, dengan tetangga, misalnya.
Memang, kawan ku,
Kita berdua ini mesti banyak latihan lagi untuk ‘bisa tersenyum yang wajar dan spontan.’ Senyum itu bukan saja jembatan terpendek, tapi juga ‘pastoral ramah hati dan teramat murah.’







