Oleh Pater Kons Beo, SVD
Gempuran demi gempuran telah dilesatkan. Inti isi gempuran: Kritik penuh sinis namun keras! Bernada kesal bahkan segala caci makian. Semua mengarah pada Rocky Gerung.
Lukiskan begini saja! Rocky, yang di arena diskursus publik apa saja, sepertinya telah didaulat sebagai ‘maharaja akal sehat’ kini sekian mudah jadi ‘hamba sahaja yang kerdil. Yang bakal dibelenggu dalam ketaatan buta pada kekuasaan istana.’
Dilantiknya Rocky Gerung sebagai salah seorang anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) sungguh berdaya tarik bagi publik. Seorang yang telah dikenal luas sebagai akademisi, filsuf, pengamat politik dan aktif dalam kegiatan demokrasi dan hak asasi manusia, kini dicurigai bakal redup dan tak bertaji dalam suara dan sikapnya.
Rocky boleh saja cerdas atau cerdik dalam varian diskusi, atau bahwa di depan jaksa dan hakim ia sekian terampil mainkan logikanya untuk selalu saja ‘lolos dari jerat hukum.’
Namun, di kisah Jumat 2 Oktober 2026 itu, semua sepertinya menuju ending ‘tak tersisa.’
‘Kata, kalimat, diktum, hegemoni logika dan imperium akal sehat Rocky yang dikenal mendebarkan, tajam, keras, dan kokoh, sepertinya mesti berakhir. Kepercayaan publik mulai menipis. Rocky Gerung benar-benar telah buktikan diri jadi akademisi dan intelektual parsial yang tenggelamkan citra akademisinya. Garang pada kekuasaan itu (Jokowi) namun garing untuk kekuasaan ini (Prabowo).
Istana yang pernah dikritik habis-habisan, istana yang itu pula yang sebenarnya dilirik penuh impian(?).







