Anton mengatakan, kelor di sekitar rumahnya tidak pernah ada manfaat. Biasanya warga hanya mengambil pucuknya untuk dijadikan sayur. Selebihnya dibiarkan begitu saja, padahal daun kelor sangat berharga.
“Karena itu saya memberanikan diri untuk mengajak ibu-ibu rumah tangga. Ternyata bukan hanya ibu-ibu yang tertarik, namun anak-anak dari tingkat SD, SMP, SMA bahkan anak-anak mahasiswa juga mau untuk mendapatkan uang jajan dan uang bemo mereka. Semua rajin membersihkan daun kelor yang sudah dikumpulkan pada pagi hari, hanya butuh waktu 2-3 jam pada pagi hari setelah itu ditimbang dan langsung dibayarkan,” tutur Anton.
Anton menjelaskan, kelor yang sudah dikumpulkan langsung dikirim melalui bus ke penampungan yakni Dapur Kelor. Di Dapur Kupang kelor diolah dengan berbagai jenis makanan maupun minuman.
Itu sebabnya, Anton mengaku sangat bangga dan bersyukur bisa membantu ekonomi keluarga bahkan anak-anak sekolah di sekitarnya.
“Kegiatan ini saya sudah lakukan dari bulan Maret lalu. Sudah tergabung hampir 30 orang. Ada ibu-ibu dan juga anak-anak sekolah. Sekarang berjalan dan memang harapannya bisa membantu meningkatkan ekonomi keluarga di sekitar Kelurahan Liliba dan memberikan semangat bagi anak-anak sekolah. Ya… melatih mereka mandiri dan bagaimana menghasilkan uang dari kerja keras sendiri,” tuturnya.
Anton bercerita suatu ketika Nyonya Julie Laiskodat Sutrisno, istri Gubernur NTT berkunjung ke rumahnya.
“Saya kaget waktu itu ada dari Korem yang datang dan bilang Ibu Gubernur mau kunjung ke sini. Saya langsung kaget ketika Ibu Gubernur turun dari mobil. Padahal saya tidak pernah bercerita tentang pengumpulan daun kelor. Mungkin karena sejalan dengan program pemerintah, jadi Ibu Gubernur datang di tempat kami,” imbuhnya.







