“Awalnya saya dengan mama yang memulai usaha ini. Namun semakin berkembang. Kami juga sudah datang ke beberapa lokasi dan beri motivasi. Kemarin baru dengan Sinode GMIT. Di sana kami bicara di seratus pendeta mengenai metode penanaman yang tepat,” tutur Josef.
Kini, kata Yosef, sudah banyak warga yang mau bergabung setelah melihat pola kerja yang benar dan didukung sistem pemasaran yang baik.
Benar saja. Di kios organik mereka terdapat banyak barang dagangan. Sebagian besar hasil pertanian yang mereka Kelola. Sayur mayur, labu jepang, labu lilin, jagung, semangka, pisang mentah dan yang sudah masak. Masih banyak lagi yang lain.
Mereka juga menyediakan aneka makanan ringan seperti ubi kayu/singkong yang diolah dengan gula merah sehingga dijadikan makanan ringan keripik pisang, keripik ubi, madu batu, dan pisang goreng.
Yang menarik dari kios organik ini, ternyata mereka melayani pembayarannya menggunakan digitalisasi dan semua difasilitasi oleh Bank NTT. Mereka adalah salah satu merchant Qris. Ini memudahkan pengunjung yang tidak membawa uang tunai. Tinggal melakukan scan pada kode bar yang tersedia transaksi klar.
Tak sampai di situ. Stenly sebagai juri juga diajak masuk ke kebun. Luar biasa. Di kebun yang luas itu, seluruhnya dibentuk bedeng-bedeng berdiameter 1 X 4-5 meter. Ada bedeng yang sudah kosong karena baru saja dipanen. Yang lain masih dipenuhi sayuran maupun cabe.
Belum lagi labu yang dibentuk melata pada sebuah terowongan bamboo. Buah labu berukuran besar berjuntai di tengah. Tentu ini menambah sensasi pengunjung yang menyusuri Lorong. Persis etalase untuk memamerkan beraneka bentuk buah labu itu.







