“Saya diceritakan langsung oleh pasien pak saat kami berpapasan di sumur air milik saya di belakang rumah. Padahal sudah seminggu pasien tersebut divonis positif dari ceritanya. Saya pun ketar ketir mendengar keluhan sang pasien, karena dirinya tidak dikarantina di tempat yang disediakan oleh Pemda Mabar,” jelas Yoakim.
Saat ini, kata Yaokim, dirinya dan keluarga hanya bisa pasrah. Akan tetapi dia berharap pasien bersama keluarga dikarantina di tempat yang telah disediakan Pemda Mabar.
Sebagai tetangga rumah, kata Yoakim, dirinya merasa serba salah dan tidak mungkin melakukan tindakan anarkis di luar kendali.
“Kami hidup bertetangga baik pak, namun soal penyakit ini kita tetap was-was. Saya mohon agar pasien segera diisolasi di RSUD Komodo. Juga kami bersama anggota keluarga segera dirapid test, jika berkenan,” harapnya.
Kepala UPTD Puskesmas Datak, Benyamin Maunu Kefi, membenarkan informasi tersebut ketika ditanya kabarntt.id.
“Informasi tersebut benar, pasien tersebut berinisial MS,” kata Kefi.
Kefi menuturkan, si pasien sendiri telah melaporkan hal tersebut kepada pihak puskesmas. Atas inisiatif sendiri, si pasien malah sangat proaktit berkeinginan untuk dikarantina di RSUD Komodo di Labuan Bajo, sebagai rumah sakit rujukan Covid-19,” jelas Kefi.
Beberapa waktu lalu, ungkap Kefi, si pasien sempat cerita jika dirinya memiliki riwayat penyakit lever. Karena ketakutannya bersamaan dengan vonis penyakit Covid-19 sehingga ia meminta sendiri ke pihak puskesmas untuk dirawat di Labuan Bajo.







