Dalam konteks pembangunan Gereja GPdI Yordan Nunbaun Sabu ini Pemerintah Kota Kupang mengajak pengurus gereja untuk juga terus menjalin kerja sama dengan pemerintah sebagai mitra pelayanan gereja.
Di akhir sambutannya, Yanuar mengimbau seluruh pengurus gereja, jemaat dan semua undangan yang hadir agar dalam menjalankan rutinitas tetap patuh pada protokol kesehatan di tengah pandemi Covid-19.
Ketua tim pembangunan gedung gereja GPdI Yordan, Dr. Hendrik A. E. Lao, M.Pd, dalam laporannya menjelaskan bahwa awal mula GPDI Yordan terbentuk dimulai sebagai pos pelayanan pada tahun 1991 dengan jumlah jemaat 8 jiwa. Pada tahun 1995 gereja ini menjadi gereja mandiri dengan jemaat tetap sebanyak 130 jiwa saat ini.
Pertambahan jemaat, dengan pelayanan yang terus berkembang dan keterbatasan fasilitas, terutama gedung gereja merupakan alasan perlunya pembangunan gedung gereja yang cukup dalam menjangkau serta mendukung pertumbuhan jemaat dan berbagi rangkaian pelayanan yang memadai.
Kepala Majelis Daerah (MD) GPdI NTT, Abraham Nenobais, dalam sambutannya mengungkapkan bahwa saat ini sinode sedang berkonsentrasi pada Gereja-Gereja Pentakosta di seluruh NTT yang tertimpa musibah pasca badai seroja.
“Kita sedang melihat dalam skala prioritas bagaimana membantu gereja-gereja yang terdampak bencana badai seroja, karena tentu membutuhkan dukungan finansial yang cukup banyak di masa pemulihan setelah badai,” ungkap Nenobais.
Karena itu bersama pengurus MD GPdI NTT, Nenobais berjanji akan mencatat pergumulan saat ini sebagai pesan bagi sinode untuk ikut diperhatikan, dalam upaya mendukung jemaat Gereja Yordan dalam proses pembangunan gedung gereja baru. (pkp_rdp/jms)







