Pewartaan di Era Digital (Catatan pada HUT ke-1 Tahbisan Uskup Agung Ende Mgr Paulus Budi Kleden SVD)

IMG 20250823 WA0005

Sekali lagi, ini bisa jadi bahan menarik bagi para mahasiswa filsafat agama atau teologi kontekstual di Ledalero untuk digarap sebagai skripsi atau tesis. Saya membayangkan, adalah suatu petualangan intelektual yang menantang dan menyenangkan untuk melihat pembabakan pengajaran seorang intelektual seperti ini.

Kedua, dalam hubungan dengan harapan, kalau kita perhatikan, pada sapaan awal dalam kotbah-kotbah, Bapa Uskup Budi selalu menyapa anak-anak dan kaum remaja berada pada tempat pertama, lalu kemudian disusul dengan ibu-bapa dan saudara-saudari.

Menurut saya, itu salah satu cara Bapa Uskup Budi untuk memberi tempat kepada anak-anak dan kaum remaja yang mungkin selama ini kurang disapa atau kurang dihargai keberadaannya oleh masyarakat. Bagaimanapun, berbicara tentang harapan berarti berbicara tentang masa depan. Masa depan berarti milik kaum remaja dan anak-anak saat ini.

IMG 20250823 WA0002

Pilihan seperti ini tentu saja tidak perlu dibenturkan dengan orang-orang tua atau generasi sebelumnya. Pada banyak kesempatan, Bapa Uskup Budi berbicara tentang kemauan untuk saling belajar: anak muda belajar dari pengalaman dan catatan-catatan orang tua. Sementara itu, orang tua belajar tentang semangat dari kaum muda dan anak-anak.

Ketiga, selain anak-anak dan remaja, ada kelompok-kelompok kecil yang selalu disapa Bapa Uskup Budi dalam pertemuan-pertemuan, yaitu mereka yang miskin dan mereka yang sedang berada di dalam penjara. Itulah pilihan sikap keberpihakan.

Rasa-rasanya masih ada banyak pribadi dan kelompok yang perlu disapa dengan model dan cara pewartaan yang kreatif dan ramah dengan keseharian mereka. Ada yang merindukan pertemuan langsung. Ada yang mungkin masih ingin membaca buku dan majalah. Ada yang mau berselancar di media digital dan menemukan sejumlah motivasi di sana.

Pos terkait