Pewartaan di Era Digital (Catatan pada HUT ke-1 Tahbisan Uskup Agung Ende Mgr Paulus Budi Kleden SVD)

IMG 20250823 WA0005

IMG 20250823 WA0004

Dari Roma ke Ndona

Ada cerita menarik yang dikisahkan Bapa Uskup Budi kepada host podcast Komsos KAE Master Oyen Feto. Dalam perjalanan pulang dari Maronggela ke Ende, ada umat di pinggir jalan yang berteriak saat melihat Bapa Uskup, “Ada Bapa Paus….”

Menurut Bapa Uskup Budi, itu baik, artinya Bapa Paus memang lebih terkenal daripada uskup Ende. Itu juga baik supaya uskup agung Ende harus semakin rajin berkunjung ke kampung-kampung agar kian dikenal.

Saat terpilih menjadi uskup agung Ende setahun lalu, Bapa Uskup Budi masih di Roma dan menjabat sebagai superior general SVD, dan sedang mengikuti kapitel. Sejumlah foto Bapa Uskup Budi dan mendiang Paus Fransiskus tersebar luas.

Dalam kotbah-kotbah satu tahun terakhir ini, terlihat amat jelas bahwa Bapa Uskup Budi selalu mengikuti semangat dari Roma terutama pada Tahun Yubileum ini di bawah tema Peziarah Pengharapan (Peregrinantes in Spem/Pilgrims of Hope). Harapan itu dibahasakan dengan cara yang ringan serentak menyentuh hati dan mudah dipahami dalam sejumlah kotbah dan pernyataannya.

Pertama, berbeda dengan ajaran-ajarannya saat masih menjadi dosen teologi di Ledalero, kotbah-kotbah Bapa Uskup Budi lebih sebagai pengajaran dari seorang gembala. Gembala umat harus memastikan pengajarannya bisa langsung dipahami dan menjadi bekal untuk melanjutkan hidup. Bapa Uskup Budi seringkali membuat poin-poin pesan tentang harapan yang sekiranya bisa langsung dipahami umat biasa.

IMG 20250823 WA0003

Dulu saat masih mengajar di Ledalero, beliau bisa saja menguraikan tema harapan dengan cara-cara yang lebih argumentatif sambil berkonsultasi dengan kitab suci, magisterium gereja, sejumlah nama teolog modern (Moltman, Rahner, Metz, dan lain-lain) atau bahkan filsuf seperti Agustinus, Ernst Bloch dan Erich Fromm.

Pos terkait