Pewartaan di Era Digital (Catatan pada HUT ke-1 Tahbisan Uskup Agung Ende Mgr Paulus Budi Kleden SVD)

IMG 20250823 WA0005

Kedua, kotbah-kotbah yang inspiratif itu sebaiknya ditulis ulang dalam bentuk transkrip oleh salah satu anggota tim Komsos KAE. Setelah melewati proses editing, kotbah ditampilkan kembali menjadi salah satu konten tulisan pada website milik KAE seperti keuskupanagungende.org atau mediakae.net yang selama ini telah mengirimkan sejumlah pemberitaan dan informasi ke beberapa WhatsApp Groups (WAGs).

Ketiga, kumpulan kotbah baik dalam bentuk konten Youtube atau tampil sebagai tulisan bisa menjadi modal dan sumber yang baik bagi para mahasiswa, juga untuk para pastor, biarawan-biarawati dan umat pada umumnya yang mungkin ingin membaca (kembali) kotbah-kotbah sang gembala. Saya ingat, Mgr Budi pernah mengatakan di Bajawa beberapa waktu lalu, “Keuskupan Agung Ende hendaknya berbau buku”

Itu artinya, KAE mesti kuat dalam literasi dan kegiatan baca-tulis. Dari Bapa Uskup saja, karya penerbitan Komsos KAE bisa menghasilkan sejumlah tulisan dari kotbah-kotbah, surat-surat gembala hingga permintaan penulisan prolog, epilog dan sambutan Bapa Uskup untuk sejumlah buku karya para imam ataupun awam dan sahabat kenalan.

Saya membayangkan begini. Beberapa mahasiswa calon guru agama di sekolah tinggi ilmu pastoral (STIPAR) Ende menulis skripsi tentang kotbah-kotbah Bapa Uskup Budi dan relevansinya untuk pendidikan agama Katolik. Atau, mahasiswa-mahasiswa IFTK Ledalero berani mengangkat dalam (pra)skripsinya perbandingan (atau perkembangan?) pemikiran Bapa Uskup Budi dari masa-masa masih sebagai dosen teologi melalui karya-karya buku dan publikasi ilmiahnya di sejumlah jurnal dengan pengajaran-pengajarannya saat menjadi uskup agung Ende. Atau, apa dan bagaimanalah yang sejenisnya.

Pos terkait