Son Banik, Pionir Pembangunan dari Alor

son banik
Son Banik dan Selfina Malaikosa

Warga desa itu kemudian menerima Son dengan sukacita. Dia tidur semalam di sana. “Mereka potong kerbau, kami  makan bersama. Pajak mereka semua langsung dibayar  besoknya,” tambahnya.

Son kemudian pindah ke Alor. Pengalaman paling hebat adalah menjadi Kepala Desa Langkuru, Kecamatan Pureman. Dia menjabat dari 1989 – 2001. Bersama Selfi sebagai Ketua PKK, duet ini membaktikan diri untuk kemajuan masyarakat. Mereka total bekerja untuk masyarakat, membuka wawasan berpikir warga, memberi contoh dan praktek hidup sehat.

Suatu waktu, warga setempat menolak program IDT (Inpres Desa Tertinggal). Mereka beralasan tidak mau disebut orang miskin. “Mereka bawa dan tunjuk saya rumah satu orang di sana. Rumahnya bagus, besar, tembok. Itu bukti mereka tidak miskin. Mengapa harus terima IDT?” tutur Son.

Son tidak kehilangan akal. Dia minta semua warga kumpul. “Saya bilang bapa dorang memang kaya. Semua sudah punya.  Tetapi satu yang bapa dorang belum punya. Apa itu?  SDM (sumber daya manusia). Biar bapa dorang kaya, tetapi kalau SDM tidak bagus, sama saja. Sekarang ini biar sekolah, tetapi kalau belum sarjana, itu masih miskin, belum maju,” jelas Son kepada warga.

patung sudirman1
Prof. Dr. Bernadete Koten (kedua dari kanan) foto bersama mahasiswa Politani di pantai Maritaing dengan latar belakang Patung Jenderal Sudirman

Penjelasannya menyadarkan dan memprovokasi warga. “Sejak itu mereka berubah. Anak-anak di situ pergi kuliah dan jadi sarjana,” kenangnya.

Pos terkait