Son Banik, Pionir Pembangunan dari Alor

son banik
Son Banik dan Selfina Malaikosa
patung sudirman2
Tempat kami berdiri ini adalah dermaga tol laut di Maritaing.

Son mengaku gaya Amon Djobo dan gayanya memimpin masyarakat tidak jauh berbeda. Untuk kepentingan masyarakat dan kemajuan daerah, Son teguh pada prinsip dan pendirian. Dia melihat dan menyadari banyak praktek hidup baik dan benar belum dipahami warga. Pengetahuan mereka terbatas. Belum lagi mentalitas tidak mendukung.

Menghadapi warga seperti ini perlu pemimpin dengan karakter kuat. Pemimpin yang tidak hanya duduk manis dan berkata-kata  di belakang meja.  Yang dibutuhkan adalah pemimpin yang terjun ke tengah masyarakat. Pemimpin yang bisa melawan warga yang merasa nyaman dengan kondisi keterbelakangan mereka. Pemimpin yang punya nyali mendobrak sikap warga yang tidak mau maju.  Son memiliki karakter seperti ini.

Di senja usianya, Son puas menyaksikan gebrakan,  usaha dan karyanya dirasakan dan dinikmati warga. Ruas jalan baru yang dibuka, yang tidak hanya membuka akses jalan, tetapi juga akses ke pasar. Jambu mete banyak yang sudah berbuah. “Saya minta ‘ako’ yang punya tokoh besar semaikan seribu anakan jambu mete. Warga saya minta gali lubang dengan jarak lima meter. Mereka tanya gali lubang untuk apa. Gali saja, dan mereka gali. Sekarang lihat jambu mete sudah penuh,” kenang Son bagaimana dia pertama kali memperkenalkan jambu mete kepada warga.

Ketika sekarang  irigasi tetes sudah ramai, Son dan Selfi sudah dari dulu perkenalkan teknologi siram itu. Dari mana tahu teknologi itu? “Saya baca di Majalah Trubus, saya pelajari dan coba,” kata Son bangga. Majalah Trubus adalah majalah yang khusus menulis tentang pertanian, peternakan, perikanan dan praktek-prakteknya.

Pos terkait