Son Banik, Pionir Pembangunan dari Alor

son banik
Son Banik dan Selfina Malaikosa

Tentang hidup sehat, Son dan Selfi juga mesti menggebrak.  Hidup di desa, warga kurang memperhatikan MKC (mandi, cuci, kakus). Kalau buang hajat, ya di kali. “Suatu kali, saya cuci pakaian di kali. Saya cium aroma tidak sedap. Ternyata mereka buang air besar di pinggir kali. Saya minta bapa agar kebiasaan ini segera diubah. Mereka harus punya WC,” sambung Selfi.

Tetapi dari mana uang untuk bangun kamar WC? “Subsidi desa hanya Rp 7,5  juta per tahun. Saya pakai Rp 4 juta dari dana itu untuk beli semen. Semua semen itu bagi-bagi ke warga. Semua  keluarga ambil semen dan bangun WC. Dulu uang subsidi kecil, tapi ada bukti. Sekarang uang banyak, tidak ada bukti, ” kata Son tertawa.

Ketika pindah ke Maritaing, Son bertugas di Kantor  Camat. Camatnya Amon Djobo. Son tahu persis bagaimana karakter dan jiwa Amon Djobo. Son punya banyak pengalaman menyaksikan bagaimana Amon Djobo yang kemudian menjadi Bupati Alor 2014-2024 yang meninggal dunia 26 Maret 2026 ini memimpin dan menjalankan birokrasi.

Apakah benar waktu menjabat sebagai camat,  Pak Amon Djobo pernah marah jenazah? Saya tanya. “Betul itu, benar terjadi,” tegas Son. Son pun berkisah.  Pada hari kejadian itu, ada agenda kerja bakti mencetak sawah di salah satu desa. Tetapi karena ada orang meninggal dunia, maka warga tidak kerja bakti. Camat Amon Djobo datang. Tahu bahwa ada kedukaan dan warga tidak kerja bakti, Amon Djobo ke rumah duka. Di depan peti jenazah, dia marah. Lu tau ka tidak hari ini ada kerja bakti. Gara-gara lu, warga tidak kerja,” kata Amon  Djobo memegang jenggot dan mengangkat kepala jenazah itu.  Hari itu juga mereka menguburkan jenazah.

Pos terkait