Booking Online Masuk Taman Nasional Komodo Ditolak

Mabar IPI Tolak Booking online

Diakuinya jika ada agen yang nakal, bisa saja mereka melakukan booking online sebanyak mungkin tanpa ada tamu terlebih dahulu.

Cara-cara seperti ini, kata Rafael, tidak  menguntungkan pelaku pariwisata, malah membunuh perekonomian.

“Terkait pembatasan jumlah tamu di sistem online yang BTNK dan BOPLBF terapkan, pertanyaannya  kira-kira tamu tersebut mereka berikan ke siapa? Agen mana yang mereka perioritaskan? Sementara jumlah kita sangat banyak. Baik travel agent, tour guide, perkapalan, perhotelan dan lain-lain,” kata Rafael.

Booking online, kata Rafael, bisa melahirkan sikap diskriminasi antara pelaku- pelaku pariwisata. “Bagaimana mungkin pihak TNK bisa berlaku adil terhadap semua pelaku pariwisata yang ada di Mabar, sedangkan kondisi tamu terbatas?” katanya.

Menurut Rafael, tamu-tamu sebaiknya  dibiarkan datang ke Labuan Bajo. Perjalanan wisatanya kemudian diatur, seperti soal waktu mengunjungi situs secara bertahap dan tetap taat pada protokol kesehatan.

Terkait carrying capacity, menurutnya, harus melalui kajian secara ekonomis. Karena yang diterapkan pihak TNK hanya 5 kapal untuk mengunjungi satu situs. Sementara kapal yang ada di Labuan Bajo 400-an sudah terdaftar dan beroperasi. Sangat janggal juga jika diberlakukan carryng capacity.

Carryng capacity harus melalui kajian yang mendalam dan komprehensif. Jangan hanya dari sisi ekologi, akan tetapi multidisipliner, sehingga terjadi multi effect terhadap semua pelaku pariwisata, baik aspek sosiologis, psikologis, bisnis dan ekonomis,” harapnya.

Pos terkait