Pihaknya, kata Shana, akan membantu hal-hal seperti itu. “Kami siap asistensi agar hotel, restoran, dan kapal harus mengambil dan mengutamakan produk-produk lokal. Terutama yang dihasilkan oleh teman-teman di Manggarai barat,” ungkap Shana.
Lebih lanjut Shana menegaskan, konsep wisata premium yang sedang dikembangkan di Labuan Bajo saat ini bukan hanya sekadar bicara tentang tarif mahal. Akan tetapi juga penekanan pada kualitas produk dan pelayanan yang ditawarkan.
Shana berharap pengembangan teknologi pertanian hidroponik tersebut dapat mendorong para petani di Kecamatan Mbeliling untuk dapat menghasilkan produk-produk pertanian yang mampu memenuhi standar kualitas pariwisata.
“Tahun 2019, hampir 85% bahan baku pangan industri pariwisata di Labuan Bajo masih didatangkan dari luar daerah. Sementara 66% masyarakat masih berprofesi di sektor primer meliputi pertanian, perkebunan, perikanan, maupun peternakan,” jelasnya.
Berangkat dari kondisi ini, Shana mendorong masyarakat Mbeliling menangkap peluang tersebut dengan berkomitmen untuk ambil bagian dalam rantai pasok pariwisata Labuan Bajo.
“Kami mendorong teman-teman di sini melalui hidroponik yang kita lakukan hari ini. Ayo kita mulai belajar menyiapkan produk-produk pertanian yang baik, yang mampu memenuhi standar kualitas pariwisata,” ujarnya memberi suport.
Shana juga menerangkan terkait pembangunan pariwisata Labuan Bajo yang masif. Bagi Shana tidak akan ada artinya jika masyarakat Manggarai Barat tidak dilibatkan. Begitupun dengan konten lokal sebagai sumber natural setempat.







