Inflasi 5,82 Persen, Pemerintah Harus Gerakkan Produksi Lokal NTT

gubernur inflasi daerah

Rata-rata tekanan inflasi masing-masing kota mengalami penurunan sejak memasuki periode pandemi Covid-19.

“Secara umum, dalam 5 tahun terakhir inflasi tahunan NTT lebih rendah dibandingkan dengan inflasi nasional. Tekanan inflasi di NTT maupun nasional mulai mengalami tren penurunan sejak periode awal pandemi yaitu Maret 2020, kemudian mulai meningkat pada awal tahun 2021. Hal ini juga ditunjukkan dari rata-rata inflasi tahunan yang lebih rendah pada periode setelah pandemi.  Tekanan inflasi administered price di NTT mengalami lonjakan pada tahun 2017 dan 2019 akibat peningkatan tarif angkutan udara di periode Ramadhan dan Idul Fitri. Inflasi volatile food juga sempat mengalami lonjakan tinggi pada April – Mei 2021 akibat fenomena Siklon Seroja,” paparnya.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Pada bulan Agustus, inflasi Provinsi NTT diprakirakan jatuh pada rentang -0,40 s.d. 0,20 (mtm). Prakiraan tersebut didorong oleh komoditas hortikultura terutama cabai dan bawang yang memasuki masa panen pada bulan Agustus sehingga diharapkan dapat meningkatkan jumlah pasokan.

Selain itu, harga minyak goreng juga melanjutkan tren penurunan seiring dengan terjaganya pasokan di masyarakat.

Di sisi lain, potensi perpanjangan kebijakan fuel surcharge angkutan udara dapat mendorong laju inflasi di bulan Agustus.

Sementara itu, inflasi Provinsi NTT pada keseluruhan tahun 2022 diprakirakan jatuh pada rentang 4,82 sampai dengan 5,82 persen (yoy).

Secara umum, strategi pengendalian inflasi di Provinsi NTT dalam jangka pendek di antaranya mengintensifkan operasi pasar, kerja sama  antardaerah (KAD), pemetaan produksi dan distribusi serta pengkinian database, komunikasi penggunaan produk olahan, subsidi angkut komoditas, serta kampung sadar inflasi. Untuk mewujudkan strategi tersebut dibutuhkan dukungan komitmen dan data dari OPD terkait.

Pos terkait