Gaspar Bao, seorang penangkar benih dari Kabupaten Sikka, mengungkapkan keharuannya karena telah dikenalkan secara langsung inovasi dan teknologi irigasi tetes untuk tanaman jagung.
Bahkan Gaspar yakin bila teknologi ini diadopsi baik untuk pembenihan maupun budidaya, maka penangkar dan petani akan mendapatkan keuntungan berlipat, tidak hanya pendapatan tetapi juga kemudahan dalam bekerja.
“Saat ini kami seperti pemain sirkus, harus mengangkut mesin-mesin diesel ke lahan untuk menaikkan air, tidak hanya mesin tetapi juga bahan bakar dan jalanan di Flores tidak seluruhnya baik, banyak kerepotan, sedangkan sistem pompa bertenaga surya akan sangat meringankan,” ungkap Gaspar optimis.
Penangkar benih lain dari Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Stefanus Bani, menyatakan irigasi tetes dan pompa air tenaga surya adalah solusi yang telah ditunggu-tunggu sejak lama.
Saat ini penangkar dan petani harus menanggung biaya BBM yang jumlahnya tidak sedikit setiap musim tanam untuk mengairi tanamannya. Ia bersyukur kini teknologi irigasi tetes telah hadir di daratan Timor sehingga lebih murah dan mudah didapatkan.
Pada kunjungan belajar tersebut, Ronald Gunawan dari Power Agro Indonesia menjelaskan aplikasi teknologi irigasi tetes untuk pembenihan dan budidaya jagung yang menguntungkan.
Dalam penjelasannya Gunawan menguraikan bahwa air diperlukan untuk terjadinya perkecambahan dan harus tersedia selama daur hidup tanaman. Namun, terlalu banyak air atau terjadinya genangan akan menyebabkan benih busuk atau bahkan kematian tanaman.







