Matematika Sulit? Gunakan Alat Peraga

FLOTIM2
FLOTIM5
Para peserta, yakni para guru, telaten menyiapkan alat peraga

Ukat sangat berharap dengan adanya kegiatan ini pemahaman guru terhadap konsep matematika semakin baik sehingga percaya diri untuk mentransfer konsep tersebut kepada siswanya.

Pada kesempatan acara pembukaan tersebut, Ketua Gugus Larantuka II, Palan Bolen Paulina, S.Pd.SD dalam sambuatannya menyampaikan limpah terima kasih kepada tim pelaksana PKM yang memilih Gugus Larantuka II sebagai tempat berbagi ilmu yang dimiliki.  Kegiatan ini dihadiri oleh 38 guru dari 7 sekolah dalam wilayah Gugus Larantuka II.

Bacaan Lainnya
Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin Punya Website? Klik Disini!!!

Ketua Tim Pelaksana, Dr. Maria Agustina Kleden, M.Sc, mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu bentuk pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi yaitu pengabdian.

“Kalau ditanya kenapa gru-guru di Gugus Larantuka yang menjadi mitra program pengabdian ini, maka jawabannya adalah ini salah satu bentuk pengabdian untuk lewotanah. Walaupun anggota tim yang lain berasal dari luar Flores Timur tetapi kami sepakat untuk melaksanakan ini di Flores Timur. Ibu Astri Atti, S.Si, M.Si dan Ibu Maria Lobo, M.Maths.Sc, PhD masing-masing berasal dari Makasar dan  Ngada, namun mereka memiliki kepedulian tinggi terhadap mutu pendidikan di Flores Timur. Ini bukan kesempatan pertama kami bertiga melakukan kegiatan di Flores Timur. Tahun 2019 dan 2020 kami laksanakan PKM di Gugus Larantuka I Wilayah Waibalun,” kata Agustina Kleden.

Ketiga dosen ini menyertakan juga 4 orang mahasiswa yaitu Maria Roslin Ito, Klaudia Kelen, Lusi Kolihar dan Resty Waton. Keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan ini bertujuan untuk melatih mahasiswa menghadapi kehidupan nyata dari teori-teori yang telah mereka peroleh pada masa kuliah.

Pendampingan demonstrasi pembelajaran matematika menggunakan alat peraga untuk 7 kelompok peserta. Kelompok dibagi berdasarkan jumlah sekolah. Hal ini dilakukan agar hasil karya alat peraga yang dibuat oleh kelompok masing-masing dijadikan milik sekolah. Diharapkan hasil karya alat peraga ini dapat dijadikan contoh untuk pengembangan lebih lanjut sesuai dengan konsep matematika yang akan diajarkan.

Pada penutupan kegiatan, Benediktus Timu mewakili peserta pelatihan mengungkapkan bahwa kegiatan ini sangat membantu karena selama ini guru mengajarkan hal abstrak.

“Saya bangga. Materi yang diberikan serta diajarkan sangat membantu, sehingga kami mendapat wawasan tambahan. Harapan saya setelah mendapat banyak hal dari pemateri kami bisa menerapkan di bumi Flores Timur sehingga dapat berdampak pada peningkatan kualitas pendidikan di Flotim,” kata Timu.

Dalam pelaksanaan pelatihan terungkap pula bahwa para guru mengalami kesulitan menyusun dan menentukan alat peraga yang tepat untuk mengajar suatu konsep matematika. Mereka sadar bahwa siswa mereka berada pada perkembangan kognitif yang membutuhkan hal-hal konkrit untuk memahami suatu konsep. Namun keterbatasan pengetahuan mereka akan alat peraga maka mereka mengajar hanya menggunakan metode ceramah. Siswa disuruh menghafal konsep penjumlahan pecahan dengan trik-trik yang sederhana.

Begitu pula tentang bangun datar dan bangun ruang. Para guru kesulitan menjelaskan konsep luas bangun datar dan volume bangun ruang. Diakui bahwa pembelajaran dengan menggunakan alat peraga dalam bentuk permainan mempercepat pemahaman siswa akan konsep dan tidak sekadar menghafal. (*/den)

Pos terkait