Dikatakan Trimeldus, penanganan virus ASF di TTU selain biosekuriti akan dilakukan penyemprotan diisinfektan kandang kalau ASF makin parah sebarannya. Tetapi biosekuriti lebih prioritas dan kandang babi milik masyarakat jangan dimasuki sembarangan oleh siapapun cukup peternak babi itu sendiri.
Khusus pedagang ternak, yang membeli babi dari berbagai tempat sehingga tidak ada yang tahu pedagang bersentuhan dengan kandang yang steril atau tidak sehingga peternak harus lebih waspada soal biosekuriti jangan biarkan pembeli babi memasuki kandang sehingga ternak babi terhindar dari virus yang bisa saja dibawa oleh pembeli,” ujarnya.
Secara tegas Trimeldus menyarankan agar ternak babi milik masyarakat yang mati supaya dikubur dan jangan dibuang supaya virus ASF tidak berkembang dan menyebar lagi. Dan perlu diketahui masyarakat bahwa ternak babi yang mati tidak bisa diganti oleh Dinas Peternakan TTU karena keterbatasan anggaran. Namun kami terus mengimbau agar kalau ada ternak babi yang mati maka masyarakat harus cepat melapor ke petugas peternakan di kecamatan maupun Disnak TTU agar segera diambil tindakan berkolaborasi dengan para kepala Desa.
Sementara, drh Stev dokter pada Dinas Peternakan TTU secara singkat menyatakan bahwa ASF masa kini tidak seganas pada awal merebak seperti tahun 2019 lalu. Karena ASF saat ini tidak begitu sporadis dan tingkat mortalitasnya tidak seganas pada masa lalu namun secara imunitas ternak babi milik masyarakat saat ini memiliki antibodi untuk bertahan terhadap virus tersebut.







