TAMBOLAKA kabarntt.id—Kepala Staf Kepresidenan Jenderal TNI (Purn) Moeldoko, selama dua hari, Kamis-Jumat (24-25/2/2022), mengunjungi Sumba Barat Daya (SBD). Di SBD, mantan Panglima TNI ini lebih banyak berdialog dengan warga di desa.
Hari pertama setelah mendarat di Bandara Tambolaka, Moeldoko dan rombongan melakukan kunjungan ke Wekelo Sawah, Kecamatan Wewewa Timur untuk berdialog dengan para petani di Desa Tema Tana.
Usai berdialog dengan petani di Wekelo Sawah, Moeldoko yang ditemani Bupati SBD, dr. Kornelius Kodi Mete, Wakil Bupati SBD, Marthen Christian Taka, Dandim 1629/SBD, Wakapolres SBD dan seluruh pimpinan OPD di SBD melanjutkan kunjungan ke Ratenggaro untuk bertemu kelompok tenun.
Moeldoko sempat mampir di Desa Maliti Bondo Ate melihat dan berdialog langsung dengan para penenun di sana.
Di hadapan para penenun dan petani yang hadir, Moeldoko mengatakan, dirinya juga anak petani. Karena itu ia sudah bisa merasakan dan mengetahui bagaimana menjadi anak petani miskin yang harus bekerja keras dan berjuang untuk mengubah kehidupannya menjadi lebih baik.

“Saya juga berasal dari desa. Desa saya jauh dari kabupaten, jarak kampung saya ke kabupaten kurang lebih 25 km. Lingkungan ini merupakan lingkungan yang subur, semua tanaman bisa tumbuh di sini. Kehidupan masyarakat di sini hampir sama dengan waktu saya kecil dulu,” ungkapnya pada media ini, Kamis (24/2/2022), di Kodi.
Moeldoko juga memberi apresiasi kepada petani di SBD, karena selama mengelilingi SBD dirinya tidak melihat ada tanah yang kosong, semua dipenuhi dengan tanaman.
Walaupun ia melihat petani masih Bertani dengan cara tradisionil sehingga belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. Hal ini disebabkan karena belum didukung teknologi, cara budidayanya yang belum mendapatkan benih yang bagus, pupuk dan pengelolaan yang profesional.
“Saya sudah banyak mendengar keluhan masyarakat masalah pupuk, benih, irigasi dan kurangnya alsintan. Saya pastikan semua keluhan itu akan sampai ke pihak-pihak terkait di Kementerian,” tegasnya.
Moeldoko melihat ada potensi yang cukup besar di SBD, karena dirinya melihat masyarakatnya yang mau bekerja.
Karena itu dia menghimbau agar pemerintah pusat, provinsi maupun kabupaten memberikan perhatian dengan melakukan pendampingan dan mengatasi apa yang menjadi kendala dari para petani.
“Kita juga harus mencari unggulannya, produk unggulannya di mana. Lalu melakukan pendampingan yang baik, sehingga hasilnya nanti bisa diekspor. Tentunya saya akan memberikan masukan pada instansi terkait agar memperhatikan petani di sini. Saya sebagai Kepala Staf Presiden hanya bisa memberikan informasi kepada pihak-pihak terkait,” jelasnya.
Moeldoko juga memberi masukan kepada para petani, jika lahan yang ada cocok untuk jagung, jangan dipaksakan untuk menanam padi. Daripada memaksa tanam padi tetapi hasilnya kurang bagus.
Dia meminta para petani belajar menggunakan manajemen yang baik, petani harus menghitung berapa harga pokok produksi, tenaga yang dikeluarkan juga harus dihitung. Sehingga petani paham berapa yang dikeluarkan dan berapa yang didapatkan.
“Dari situ petani dapat mengevaluasi diri, sehingga ke depannya dapat bertindak lebih efisien,” jelasnya. (ota)







