“Bagaimana tidak? Areal pembangunan geothermal ini berada di atas lahan produktif yang telah ditanami kopi, vanili, cengkeh, kakao, kemiri, pisang, mahoni, keladi, kelapa dan jenis komoditi lainnya yang menjadi sandaran utama sumber penghidupan masyarakat,” kritiknya.
Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat, kata Putra, seharusnya mendorong sektor pariwisata agar diberdayakan demi mendongkrak pertumbuhan ekonomi Desa Wae Sano.
“Danau Sano Nggoang memiliki predikat sebagai danau vulkanik terbesar di NTT. Seharusnya ini menjadi obyek wisata prioritas pengelolaan sekaligus pemberdayaan dari Pemkab Mabar demi mendongkrak pertumbuhan ekonomi Desa Wae Sano. Bukan malah membangun proyek geothermal yang secara langsung memberikan pengaruh buruk terhadap masyarakat.” Jelas Putra.
Putra mengatakan, pada prinsipnya pembangunan perlu didukung karena pembagunan itu muaranya untuk kesejahteraan massyarakat.
“Namun kita perlu memilah pembangunan yang berdampak baik dan buruk. Realita yang terjadi, substansi pembangunan proyek geothermal ini mengabaikan konsep pembangunan secara lingkungan, sosial dan budaya. Kalau proyek ini direalisasikan, jelas ini berdampak buruk bagi keberadaan masyarakat Wae Sano,” katanya. (den)







