Meski manusia saat ini hidup dalam kecenderungan naturalisasi hawa nafsu, lanjut Pater Fritz, jajaran Kejaksaan NTT diingatkan untuk menyadari dan tetap memperhatikan tata rasa bajik dan bangunan cinta kasih.
“Orang yang memiliki tata rasa bajik sangat cocok untuk hidup di zaman moderen ini. Serentak dengan itu memiliki etika dan etos kerja yang baik. Juga memiliki waktu untuk memuliakan Allah. Bekerjalah dalam kesetiaan seperti seorang penggali sumur,” tegas Pater Fritz.
Jajaran Kejaksaan, kata Pater Fritz, harus selalu berpegang teguh pada motto Setia, Adhy, Wicaksana. “Setia karena memiliki kualitas batin dan keteladanan yang disertai iman. Adhy; kesempurnaan dalam bertugas dengan bertanggungjawab terhadap Tuhan, keluarga dan sesama. Serta wicaksana berarti: bijaksana dalam tutur kata, tingkah laku di dalam menerapkan kekuasaan dan kewenangan. Ini adalah bingkai yang harus dipegang teguh oleh semua insan Kejaksaan,” pinta Pater Fritz.
Usai kegiatan pembinaan rohani dilanjutkan dengan sesi foto bersama dan pameran serta penjualan 14 buku (Refleksi Filosofis, Sosiologis, Spiritual dan Puisi) yang merupakan hasil karya Pater Fritz Meko yakni : Di Simpang Peristiwa (Gramedia Pustaka Utama, 2012); Rahimku Terminalmu ke Dunia (Obor Jakarta, 2013); Biologi Kesempatan (Kanisius Yogjakarta, 2015); Jejak-jejak Peristiwa – Kumpulan Puisi (Kanisius 2015); Abundant Life (Pohon Cahaya Yogjakarta 2016); The Meaning of Life (Pohon Cahaya Yogjakarta 2016); Crossing The Wave of Faith (Pohon Cahaya Yogjakarta 2017); Celebration of Life (Pohon Cahaya Yogjakarta 2019); Pilgrimage of Life (Pohon Cahaya Yogjakarta 2019); Mengendus Jejak Ilahi (Kanisius 2020); Berserah Pada Tuhan (Pohon Cahaya Yogjakarta 2022); Antologi Pusi Sang Mesias (Pohon Cahaya Yogjakarta 2022); dan Realitas Hidup dan Warnanya (Pohon Cahaya Yogjakarta 2022). (*/vg)







