Jokowi bahkan telah memerintahkan Gubernur Nusa Tenggara Timur Viktor Bungtilu Laiskodat dan Bupati Sumba Timur, Drs. Khristofel Praing untuk memastikan luas lahan untuk budidaya sorgum di Sumba Timur dan Nusa Tenggara Timur. Hal tersebut dilakukan agar sorgum dapat menjadi alternatif pangan yang dibudidayakan secara massif.
Peningkatan luas tanam dan budidaya sorgum, kata Jokowi, dilakukan agar masyarakat tidak lagi hanya tergantung pada gandum dan jagung. Apalagi, kata Jokowi, jagung tidak terlalu berhasil di Nusa Tenggara Timur.
“Saya tadi memerintahkan gubernur dan bupati untuk betul-betul memastikan berapa luasan lahan yang bisa dipakai untuk menanam sorgum sehingga kita tidak tergantung sekali pada gandum dan jagung. Sudah dicoba jagung, kurang berhasil dan sorgum sudah baik karena sebelumnya juga sudah biasa ditanam,” ujar Jokowi.
Kepala Staf Kepresidenan (KSP), Moeldoko, telah menginisiasi program budidaya sorgum sebagai salah satu produk pangan alternatif yang disiapkan untuk menghadapi krisis pangan dunia.
Budidaya tanaman sorgum di Sumba Timur dilakukan di Desa Laipori dengan lahan seluas 3.200 hektar dan Desa Nguhong seluas 800 hektar. Lahan tersebut mampu disulap menjadi lahan produktif yang diproyeksi menghasilkan Rp 50 juta per tahun dari hasil panen 15 ton sorgum.
Dalam kunjungan kerja tersebut, Presiden Jokowi dan ibu negara Iriana Jokowi dan KsP Moeldoko juga menyempatkan menanam benih sorgum di lahan budidaya seluas 400 hektar setelah melakukan peninjauan budidaya dan pengolahan sorgum.







