TAMBOLAKA kabarntt.id—Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD) berada di urutan ke-4 dari 5 kabupaten yang masuk 10 besar kabupaten dengan kasus stunting tertinggi di NTT. Posisi ini mesti menjadi perhatian serius semua pihak untuk mengatasinya.
Urutan pertama adalah Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), kedua Timor Tengah Utara (TTU), ketiga Alor dan kelima Manggarai Timur.
Data dari Dinas Kesehatan SBD per tanggal 6 Februari 2022, balita stunting mencapai 11.403 anak atau 45,33 persen, sedangkan gizi buruk mencapai 551 anak.
Pelaksana tugas (Plt) Dinas Kesehatan Kabupaten SBD, Chris Horo, lewat pesan what shappnya, Rabu (9/3/2022), menjelaskan kasus balita stunting di SBD memang cukup tinggi sehingga menjadi perhatian khusus juga untuk memperbaiki gizi anak-anak di SBD.
“Ada hampir 45,33 persen anak stunting dan 551 anak gizi buruk di SBD,” kata Chris.
Menurut Chris yang juga menjabat Asisten 1 Setda SBD, ada beberapa strategi penanganan yang sudah dilakukan dan terus dilakukan oleh Pemerintah SBD dalam menurunkan angka stanting maupun angka gizi buruk, yakni PMT (pemberian makanan tambahan), penyuluhan saat pelaksanaan posyandu untuk balita dan ibu hamil berupa biskuit, PMT pemulihan untuk balita gizi kurang dan buruk berupa biskuit, susu PKMK (Penanganan Khusus Medis Khusus), dan melakukan sosialisasi kepada stakeholder untuk menyarankan orang tua agar anak balita bermasalah gizi diberikan tambahan makanan berupa : telur sehari 1 butir untuk balita > 6 bulan, dan 1 boks susu dan 1 butir telur untuk balita > 1 tahun per hari.
“Dengan beberapa strategi ini kami berharap bahwa kasus stunting dapat menurun, dan sinergi dari semua pihak juga menjadi dukungan bagi kami juga,” imbuhnya. (np)







