Ditambah pula konflik sosial pasca Pilpres 2019 yang mengkotak-kotakkan masyarakat sesuai latar belakang ekonomi, sosial budaya, batas wilayah, sumber daya alam dan isu SARA.
Herman Man juga mengingatkan tentang potensi konflik yang terjadi dalam masyarakat selama ini.
“Potensi konflik sudah kita kenal sejak dahulu berupa ancaman, gangguan, tantangan dan saat sekarang ini ada istilah radikalisme dan politik identitas yang membuat orang merasa takut. Semua bahasa-bahasa yang membuat orang takut, orang jadi tidak nyaman, juga ada hoax yang menyebarluaskan fitnah, menyebarluaskan berita-berita bohong sehingga meresahkan,” tuturnya.
Terkait mekanisme berkoordinasi di lapangan, Herman Man menyampaikan rasa syukur atas situasi dan kinerja tim terpadu saat ini.
“Saya bersyukur dan berterima kasih kepada kita semua. Secara keseluruhan saya kira pemberitaan di media nasional, juga di media online seperti apa yang terjadi di DKI Jakarta dampaknya juga terjadi sampai ke sini. Mungkin tidak langsung, tapi mungkin tanda-tandanya ada. Situasinya seperti apa, di Kota Kupang ini, nanti para narasumber bisa menyampaikan kepada kita,” ungkapnya.
Herman Man berharap rapat koordinasi tahun ini dapat memantapkan peran, fungsi tim dalam mendukung pemerintah pusat dalam menjaga stabilitas nasional melalui upaya pencegahan, penghentian dan pemulihan pasca konflik.
Menurutnya, yang diutamakan dalam upaya pencegahan adalah menetapkan langkah-langkah strategis agar tidak terprovokasi. Terutama dalam menjaga situasi kondusif menjelang Natal dan Tahun Baru di Kota Kupang agar tidak terpengaruh dengan pemberitaan-pemberitaan di tingkat nasional yang menurutnya punya dampak langsung baik besar ataupun kecil.







