Lanjutnya untuk prosesi kegiatan, pertama bahwa pesparani ini memakai 2 metode atau 2 cara offline dan online Ada 13 mata lomba yang di lombakan dan ada 5 mata lomba paduan suara yang dilakukan dengan model recording atau rekaman dengan kata lain di rekam di tempat masing-masing kemudian dikirim kepada juri dan kemudian dinyatakan pemenangnya sementara yang lain paduan suara campuran demikian juga cerdas cermat rohani, mazmur dan tutur kitab suci dilakukan secara live dan offline di Kupang Ini.
Yang kedua dari segi penganggaran maka seperti saya katakan tadi bahwa penganggaran itu berasal dari beberapa pihak. Dari provinsi sudah diterima oleh teman-teman panitia sebesar Rp. 3 M, kedua dari Kementrian Agama itu sebesar Rp. 5 miliar dan ketiga itu dari pengumpulan dana kita. Total dana yang kita butuhkan itu sekitar Rp.12 miliar sehingga kita masih mencari sekitar Rp.4 miliar dan ini dari penggaangan dana kita.
“Nah dari mana anggarannya, anggarannya juga bisa dari APBN, bisa dari APBD dan dari sponsor-sponsor lain bisa dari ikatan masyarakat dan seterusnya”, katanya.
Sementara ketua panitia Provinsi NTT, Frans Salem menjelaskan terkait persiapan yang sudah dilakukan dan semua sudah disiapkan secara baik.
“Kalau untuk siap kami sudah sangat siap ya, karena seharusnya kegiatan ini sudah dilakukan pada tahun 2020 yang lalu, tapi karena pandemi Covid-19 sehingga kita tunda sampai tahun 2022. Persiapan lokasi acara kita sudah siapkan, pertama itu di Aula Gereja Paroki Asumta, kedua di Santo Yosep dan Aula Eltari Kupang dan untuk pembukaan akbar akan dilakuan di Stadiun Oepoi Kupang,” jelas mantan Sekda NTT itu.







